Sejumlah Desa di Bali Krisis Air, 5 Wilayah Berstatus Awas Kekeringan
Sekretaris Daerah (Sekda) Dewa Made Indra mengatakan dampak El Nino telah menimbulkan beberapa jumlah total desa dalam Pulau Bali kesulitan air bersih kemudian juga untuk pertanian karena ada .
Sementara itu, Balai Besar Meteorologi Klimatologi serta Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memetakan lima wilayah di dalam area Bali masuk status Awas Kekeringan oleh sebab itu sudah bukan ada hujan minimal 61 hari berturut-turut.
Mulanya, Sekda Indra mengatakan sebagian desa yang digunakan kekurangan air bersih di tempat area daerah Kabupaten Jembrana, juga Kabupaten Karangasem, Bali, akibat dampak El Nino. Namun, pihaknya tidak ada ada menyebutkan berapa desa yang dimaksud kekurangan air bersih di area tempat dua kabupaten itu.
“Ada beberapa desa pada Bali yang dimaksud mengalami kesulitan air bersih. Seperti beberapa desa di area dalam Jembrana, pada Karangasem juga,” kata dia pada tempat Kantor DPRD Bali, Denpasar, Senin (2/10).
Ia menyebutkan, El Nino berdampak kepada kekeringan kemudian berimbas kepada suplai air untuk pertanian serta juga suplai air bersih warga.
“Kalau untuk air pertanian di area dalam Bali, tidak ada ada terpengaruh secara signifikan oleh El Nino. Tapi untuk air bersih ada pengaruhnya,” imbuhnya.
Namun, pihaknya menyatakan untuk desa yang digunakan mengalami kekeringan sudah pada tempat atasi oleh BPBD Provinsi Bali berkolaborasi dengan BPBD Kabupaten Jembrana, juga Kabupaten Karangasem, Bali, serta dinas terkait.
“Hal ini, sudah diatasi melalui kolaborasi BPBD Provinsi, BPBD kabupaten setempat, PDAM, Dinas PU, juga Dinas Sosial. Maka desa-desa yang digunakan kesulitan air bersih sekarang disuplai air bersih melalui kolaborasi tadi. Kalau sektor pertanian belum terdampak secara signifikan,” ujarnya.
Sementara, dikonfirmasi berbeda Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Made Rentin belum merespons berapa banyak desa Bali yang dimaksud digunakan terdampak kekurangan air bersih.
Daftar lima wilayah berstatus Awas Kekeringan
Sementara itu, BBMKG Wilayah III Denpasar telah memetakan lima wilayah pada area Bali masuk status Awas Kekeringan dikarenakan sudah bukan ada hujan minimal 61 hari berturut-turut.
“Sudah lebih lanjut lanjut dari 61 hari tidaklah ada turun hujan,” kata Koordinator Bidang Data serta Informasi BMKG Wilayah III Denpasar I Nyoman Gede Wiryajaya pada tempat Denpasar, Bali, Senin.
Lima wilayah pada area Bali yang tersebut digunakan masuk status Awas Kekeringan itu yakni mayoritas dalam Kabupaten Buleleng meliputi Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Sawan, lalu juga Kubutambahan. Sedangkan satu kecamatan berada pada tempat Kabupaten Karangasem yakni Kecamatan Kubu.
Ada pun Kecamatan Kubu menjadi kecamatan pada area Bali yang mana digunakan total hari tiada ada hujan paling lama yakni mencapai 90 hari.
Meski status Awas Kekeringan, BMKG memperkirakan kemungkinan masih dapat terjadi hujan namun dengan curah hujan minim yakni kurang dari 20 milimeter per 10 hari.
Sedangkan tujuh wilayah pada Bali masuk status Siaga Kekeringan yakni Kecamatan Kintamani, Karangasem, Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan, Nusa Penida, lalu Denpasar. Ada pun jumlah keseluruhan agregat hari tanpa hujan mencapai minimal selama 31 hari dengan kemungkinan masih dapat terjadi hujan mencapai kurang dari 20 milimeter per 10 hari.
Sementara itu ada lima wilayah yang masuk status Waspada Kekeringan yakni Kecamatan Melaya pada Kabupaten Jembrana lalu sisanya pada Kabupaten Buleleng yakni Kecamatan Seririt, Busungbiu, Banjar lalu Tejakula.
Untuk status waspada itu, jumlah total keseluruhan hari tanpa hujan minimal mencapai 21 hari dengan kesempatan kemungkinan terjadi hujan kurang dari 20 milimeter per 10 hari.
Pihaknya memohon umum mewaspadai status kekeringan itu, oleh sebab itu berpotensi memicu kebakaran hutan juga lahan (karhutla).
Sebelumnya BBMKG Denpasar memperkirakan puncak musim kemarau dalam tempat Bali terjadi pada Juli-Agustus 2023 yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Berdasarkan analisis BMKG apabila mencapai bilangan tambahan dari 1 merupakan intensitas moderat juga juga akan semakin kering. Kondisi El Nino diperkirakan mencapai 1,01 pada periode Juni, Juli, Agustus (JJA) 2023, kemudian meningkat lagi pada periode Juli, Agustus, serta juga September 2023 (JAS), serta Agustus September Oktober (ASO) mencapai 1,10.
Kemudian berangsur berkurang hingga November, Desember, lalu Januari (NDJ) mencapai 0,92.
Sumber: CNN Indonesia
