Akibat COVID-19 dan pemberlakuan kebijakan PPKM Darurat telah menyebabkan tekanan luar biasa bagi masyarakat, termasuk warga Kabupaten Pangandaran.

Selain keselamatan jiwanya terancam akibat COVID-19, masyarakat juga kini merasakan himpitan masalah ekonomi yang tak kalah menyesakan dada.

Setidaknya itu tergambar dari suara-suara masyarakat di media sosial. Keluhan bahkan teriakan lapar, berseliweran ditulis netizen di berbagai grup-grup media sosial. Tak sedikit pula kecaman bahkan narasi provokatif dilontarkan warga kepada pemerintah.

Lalu apa yang dirasakan seorang Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata dengan situasi ini?

“Jadi kalau ada situasi paling tidak enak dalam hidup saya, ya sekarang ini. Saya sering tak bisa tidur, terus berpikir, terus berusaha, menyelesaikan banyak sekali permasalahan-permasalahan. Karena apa? karena saya pemimpin, tanggung jawab saya besar,” kata Jeje, Rabu (14/7/2021).

Sebagai seorang pemimpin Jeje mengatakan ada tanggung jawab yang harus dilaksanakannya. Terutama penanggulangan dampak COVID-19 yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa masyarakat Pangandaran.

Ditengah segala keterbatasan, segudang persoalan harus dia selesaikan setiap hari. Mulai dari keterbatasan anggaran sampai kepada keterbatasan pegawai akibat banyak yang terpapar COVID-19.

Kejadian Tragis yang Membuat Perasaannya Hancur

Tak cukup keruwetan urusan kerja, sebagai pemimpin tak jarang perasaannya hancur ketika mendapati kejadian-kejadian tragis yang dialami masyarakatnya akibat COVID-19.

Misalnya Jeje mengaku merasakan kepedihan mendalam ketika Rabu pagi tadi menerima laporan seorang bayi usia 4 bulan meninggal dunia akibat terpapar COVID-19. Bayi laki-laki ini tertular dari orangtuanya.

“Tadi pagi saya dapat laporan ada bayi meninggal dunia akibat COVID-19. Tertular dari orangtuanya. Ini menyedihkan sekali. Kemudian setiap hari banyak masyarakat yang meninggal dunia, total sudah 118 orang meninggal dunia akibat COVID-19 ini,” kata Jeje.

Lonjakan kasus COVID-19 di Pangandaran telah memberikan tekanan yang luar biasa bagi dirinya dan seluruh masyarakat Pangandaran, tanpa kecuali.

Situasi sulit dirasakan dalam bentuk yang berbeda-beda. Kaum buruh, kaum gaji, pedagang, pengusaha, jelata, pejabat, anak-anak, manula, semua menghadapi situasi sulit dalam dimensinya masing-masing.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah kesadaran, kebersamaan dan kekompakan untuk bersama-sama berusaha mengakhiri pandemi ini. Patuhi anjuran pemerintah terutama aturan PPKM Darurat, agar di tanggal 20 Juli nanti kasus landai dan ekonomi bergeliat kembali,” pinta Jeje.

“Ngantor” Bersepeda Untuk Menjaga Kesehatan Malah Dicibir

Lebih lanjut Jeje juga sempat menceritakan pengalaman kurang mengenakan yang dialaminya ketika bersepeda sepulang “ngantor”. Beberapa hari terakhir ini dia memang kerap bersepeda dari kantor Bupati di Parigi ke rumahnya di Pangandaran.

“Saya itu pulang ngantor naik sepeda, namanya Bupati ya dikawal. Gara-gara begitu aja saya sampai diomelin. Ngajedog wae katanya, padahal saya teh pulang kerja, tidak ngajedog,” kata Jeje sambil tersenyum.

Selain melepas stres, bersepeda sepulang ngantor menurut dia menjadi upaya dirinya menjaga kebugaran tubuh.

“Saya juga butuh olahraga atuh, supaya sehat,” kata Jeje.***