Polri Ungkap Oknum Polisi Terlibat Transaksi Jual Beli Ginjal di RS Pemerintah Kamboja

MerahPutih.com – Anggota Polri yang terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang (TPPO) penjualan ginjal.

Pelaku bernama Aulia M berperan menghalangi penyidikan dan mengontrol gerak-gerik pelaku agar tidak terdeteksi.

Baca juga:

Kemiskinan membuat warga menjadi korban TIP dan penjualan organ

Kepala Humas Polda Metro Jaya Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa petugas akan mendapat sanksi pidana dan kode etik.

“Sekarang sudah jelas tindak pidananya, sudah jelas bahwa tindak pidana akan dibarengi dengan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan Propam nanti, apakah itu kode etik atau tidak,” kata Trunoyudo kepada wartawan di Jakarta, Jumat ( 21/7).

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo geram saat melihat Aipda M.

“Kapolri sudah minta ditindak tegas,” kata Trunoyudo.

Namun, dia belum bisa memastikan sanksi apa yang akan diterapkan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

“Ini melalui mekanisme, saya tidak bisa mengantisipasi, keputusan seperti apa berdasarkan hasil persidangan,” kata Trunoyudo.

Baca juga:

Perdagangan dalam Sindikat Perdagangan Ginjal di Seluruh Negeri, Polisi Diduga Terlibat

Dalam kasus penjualan ginjal, Aipda M mengintervensi penyidik ​​yang sedang melakukan penyidikan kasus penjualan ginjal TIP di Kabupaten Bekasi, memerintahkan sindikat penjualan ginjal untuk memusnahkan barang bukti agar tidak ditemukan polisi.

Baca juga:  Beli Mobil Bekas di Carsome Bisa Dapat Program Menarik Mudik Lebaran

Sebelumnya, Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Hengki Haryadi mengungkapkan kronologi penangkapan sindikat TPPO jual beli ginjal internasional yang melibatkan 12 orang.

Menurut Hengki, penangkapan berawal dari penggerebekan rumah di Kompleks Perumahan Villa Mutiara Gading, Jalan Piano 9, Blok F5 Nomor 5, RT 3 RW 18, Desa Setia Asih, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dalam proses pengembangan, ternyata jual beli ginjal ini merupakan bagian dari jaringan internasional.

“Kami membentuk tim gabungan Bareskrim Polri, Polda Metro dan Divhubinter. Tujuan kami menyelamatkan para donatur yang berada di Kamboja saat itu,” ujar Kombes Hengki.

Selanjutnya, polisi menemukan ada 14 korban yang hendak bertransaksi di rumah sakit pemerintah daerah, Preah Ket Mealea, di Kamboja.

Baca juga:

Kasus TIP selalu melibatkan serikat pekerja nasional dan asing



Source link