Petani Karet di Pangandaran Raup Untung di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Sardi (64) petani penyadap karet di Pangandaran sedang melakukan aktivitas. (foto: eris riswana/sp)

Pangandaran – Petani karet di Pangandaran merasa bersyukur, di tengah pandemi Covid-19 harga jual karet justru mengalami peningkatan.

“Harga karet memang pluktuatif. Namun akhir-akhir ini harganya naik, dari Rp4500 menjadi Rp7500 per kilogram,” jelas Sardi (64), petani karet, Sabtu (21/2/2021)

Bacaan Lainnya

Warga Dusun Sindangkasih RT 10/16, Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang ini mengatakan, penyadapan pohon karet dilakukan satu kali dalam sehari.

“Setelah digores kulitnya, tinggal tunggu sampai 2 jam. kemudian dikumpulkan di tempat khusus penampungan hasil sadapan, seperti palkon atau bak plastik,” terang Sardi.

Baca juga: Pendaftaran Petani Milenial Ditutup Hari Ini, Peserta Membludak

Sardi menyebut, ada 400 pohon sadapan yang menghasilkan getah karet kental sebanyak 15 kg per hari.

Lanjut Sardi, hasil sadapannya dikumpulkan selama 10 hari di tempat yang sudah disediakan, sambil menunggu bakul atau pembeli

“Pembeli datangnya 10 hari sekali dan bisa terkumpul sebanyak 150 kg dalam 10 hari,” ucapnya.

Sardi menjelaskan, pohon karet adalah sejenis tanaman tahunan, yang dapat tumbuh sampai usia 25 sampai 30 tahun, dan masih produktif menghasilkan gumpalan getah karet.

Pohon karet, kata Dia, biasanya memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman pohon karet terhadap kondisi lingkungan, yang kurang menguntungkan seperti kekurangan air atau kemarau.

Salah satu ciri pohon karet yang banyak getahnya yaitu jika digores kulitnya, memiliki getah lateks yang kental.

“Untuk pohon karet yang mati, bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti pohon karet stress akibat zat kimia (pestisida), penggunaan perangsang getah, musim dan akibat proses penyadapan yang salah,” ucapnya. (Eris Riswana)

Pos terkait