BERITA  

Persoalan Ekonomi Jadi Penyebab Utama Perceraian di Pangandaran

SEPUTARPANGANDARAN.COM – Kementerian Agama dan Pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab besar untuk menekan tingginya angka perceraian di masyarakat.

Hingga saat ini, ratusan kasus perceraian masih terjadi dalam setiap tahunnya. Berdasarkan data tahun 2019 lalu, tercatat 966 kasus perceraian terjadi di Pangandaran.

Menanggapi hal itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran, Cece Hidayat, mengaku prihatin dengan angka perceraian yang terus meningkat tiap tahunnya.

“Saya prihatin melihat jumlah pristiwa penceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Ciamis, pada tahun 2017, tercatat ada 202 kasus, tahun 2018 naik menjadi 818 kasus dan tahun 2019 naik lagi menjadi 966 kasus,” ungkapnya.

Cece menyadari tingginya tingkat perceraian menandakan bahwa lembaga Badan Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) belum berdampak positif dan belum mampu meminimalisasi tingkat perceraian.

“Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah cerdas dan positif dalam rangka penguatan ikatan rumah tangga melalui penguatan kapasitas kelembagaan BP4 di tingkat kecamatan dan kerjasama dengan para alim ulama dan tokoh masyarakat,” tegasnya.

Baca juga:  Anggaran APBD Tersendat, Honor Tenaga Non ASN di Pangandaran 4 bulan Belum Dibayar

Sementara, penyebab terjadinya perceraian didominasi persoalan ekonomi dan ketidakcocokan dalam rumah tangga.

“Namun di balik itu semua, kami masih sangat prihatin melihat jumlah peristiwa perceraian yang mengalami kenaikan,” ujarnya.

Dari angka yang di dapat dari bagian seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kab. Pangandaran angka pernikahan dalam kurun waktu 2017 tercatat sebanyak 4.098, sedangkan pada tahun 2018 terjadi tren kenaikan menjdi 4.377 pernikahan.