Peneliti ITB Kembangkan Varietas Cabai Bernama ITB 1

MerahPutih.com – Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) berhasil mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Kementerian Pertanian untuk varietas lada bernama ITB 1.
Penelitian ini dilakukan oleh Tati Suryati Syamsudin dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB dan Rinda Kirana dari Balitsa.
Tati menjelaskan, penelitian ini dilatarbelakangi banyak gagal panen pada tanaman paprika yang disebabkan oleh lalat buah.
Baca juga:
Beli 1 Kg Cabai Maros Rp 40.000, Jokowi Penasaran dengan Bumbunya
Gigitan lalat buah membawa telur yang berkembang menjadi larva dan memakan daging paprika. Bekas tusukan ini juga menjadi pintu gerbang masuknya spora jamur dan bakteri. Tidak hanya pada paprika, dalam beberapa kasus kegiatan ekspor buah tropis terhambat karena adanya lalat buah pada buah yang akan diekspor.
Teknologi seperti atraktan untuk menarik lalat jantan terhadap radiasi untuk mensterilkan lalat jantan telah dikembangkan di beberapa negara, salah satunya Jepang. Namun, teknologi ini tidak ideal diterapkan pada petani Indonesia.
“Kebetulan tidak bisa langsung dicari yang tahan, artinya perlu dicari teknologi di luar budidaya,” kata Tati dikutip Sabtu (29/4).
Sejak 2017, tim peneliti ITB bekerjasama dengan Balitsa melakukan penelitian terhadap 14 karakter dari 50 varietas lada.
Melalui penelitian ekstensif, pada tahun 2019 ditemukan varietas lada baru yang dapat menjadi solusi serangan lalat buah.
“Kami justru mendapatkan varietas yang peka terhadap serangan, dulu mengandung”, kata Tati.
Baca juga:
Kementerian Pertanian memasok 142 ton cabai dan bawang merah ke Jakarta
Varietas yang selanjutnya disebut ITB 1 ini berfungsi sebagai pagar pelindung di sekitar varietas utama yang dibudidayakan.
Tati menjelaskan, pemberian nama ITB 1 merupakan kebanggaan ITB yang baru pertama kali mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman.
“Keistimewaan paprika yang sensitif terhadap lalat buah adalah kandungan oksigennya yang tinggi, namun hal ini juga perlu dibuktikan di lapangan,” ujar Tati.
Osimen adalah bahan kimia yang diyakini bertindak sebagai penarik lalat buah betina. Menempatkan tanaman sensitif di pinggir tanaman cabai yang ingin dilindungi merupakan alternatif lain karena paprika sensitif dapat dipanen saat masih hijau dan masih memiliki nilai ekonomis. Pengembangan varietas ITB 1 diharapkan dapat bermanfaat dan dapat lebih optimal diterapkan oleh petani lada di Indonesia.
Setelah melewati serangkaian uji BUSS (New, Unique, Uniform, Stable), ITB resmi mendapatkan sertifikat Hak Perlindungan Varietas Tanaman. Proses pengujian ini melibatkan ahli dan pemulia tanaman yang diselenggarakan oleh Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Kementerian Pertanian.
Saat ini varietas ITB 1 belum dapat dipasarkan. Perlu dilakukan serangkaian uji multisite untuk mengetahui stabilitas dan keseragaman pertumbuhan varietas ITB 1 di lokasi yang berbeda.
Tati berharap pada tahun ini dapat dilakukan multisite test pada varietas ITB 1. (Imanha/Jawa Barat)
Baca juga:
Kementerian Pertanian menjamin stok bawang merah dan cabai aman sebelum bulan puasa
