
MerahPutih.com – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta pemerintah daerah terus memperkuat intervensi terarah dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.
“Pemerintah daerah harus terus memperkuat dan memperhatikan intervensi khusus untuk mengatasi stunting,” tegas Muhadjir Effendy di Jakarta, Kamis.
Baca juga:
Mendagri meminta peserta pemilu membawa masalah penundaan kampanye
Menko PMK menjelaskan, intervensi khusus adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi penyebab langsung dari perawakan pendek.
Dia mencontohkan, intervensi spesifik antara lain meningkatkan konsumsi pil besi bagi remaja dan ibu hamil serta memastikan distribusi pil besi ke pesantren dan pesantren.
Intervensi juga termasuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif untuk bayi dan memperkuat dukungan keluarga dan penyedia layanan kesehatan untuk pemberian ASI eksklusif.
“Pemerintah daerah juga perlu membuat kebijakan daerah yang mendukung peningkatan cakupan ASI eksklusif dan mengintensifkan penyuluhan secara berkesinambungan,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, pemda juga perlu mendata kepemilikan alat USG dan antropometri untuk mendukung penanganan perawakan pendek dan mengusulkan ke Kementerian Kesehatan tindak lanjut perolehan tersebut.
Intervensi khusus selanjutnya, kata dia, adalah penguatan peran Posyandu dalam upaya mendukung pencegahan stunting.
Baca juga:
Terjadi peningkatan angka stunting di 6 provinsi pada tahun 2022
“Yang tak kalah penting adalah meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya gizi lengkap bagi ibu hamil dan anak kecil, terutama yang kaya protein hewani,” ujarnya.
Selain intervensi khusus, kata dia, pemda juga perlu memperkuat intervensi sensitif, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi penyebab tidak langsung defisit pertumbuhan.
“Intervensi sensitif misalnya penyediaan air bersih, air bersih, sanitasi, untuk perbaikan lingkungan,” ujarnya.
“Saya minta kepada pemerintah daerah yang masih membutuhkan bantuan dari Kementerian PUPR untuk mengajukan kepada Kementerian PUPR agar dapat dilakukan upaya lebih lanjut dari program air bersih, sanitasi, hingga perbaikan jamban, mohon disampaikan”, ujarnya.
Sementara prevalensi stunting di Indonesia saat ini berdasarkan Survei Gizi Negara Indonesia (SSGI) adalah 21,6 persen.
“Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14% pada 2024,” kata Muhadjir Effendy.
Baca juga:
IDI Ungkap Kunci Masalah Stunting adalah Pemahaman Orang Tua Tentang Gizi





