UNTUK Orang tua sang anak sudah beranjak remaja dan pasti mengalami kecemasan dan depresi karena sang anak mulai ‘berpaling’ untuk mendapatkan perhatian orang lain alias pacar pertamanya. Pasti sangat menyakitkan ketika sang anak mulai terlihat akan meninggalkan orang tuanya dan memilih lebih banyak menghabiskan waktu bersama pacarnya.
Tapi percayalah, remaja yang heboh dengan dunia asmara ini tidak membenci orang tuanya. Mereka baru saja memasuki fase pencarian jati diri dan romansa adalah salah satu fasenya.
Kutipan jadilah ayah yang baikbanyak orang tua khawatir tentang remaja mereka yang berubah sikap ketika mereka mulai mengenal cinta.
Memang benar kekhawatiran akan terus muncul, apalagi kita tidak bisa mempercayai pacar anak itu 100%. Yang terbaik bagi orang tua adalah memilih menjadi tempat terbaik bagi anak-anak mereka untuk bercerita, daripada mengendalikan apa yang mungkin membuat mereka merasa seperti orang asing bagi orang tua mereka.
Baca juga:
Bahaya Sindrom Bayi Terguncang
Mulailah memiliki dunia Anda sendiri
Orang tua harus memahami bahwa suatu hari, ketika anak mereka mencapai usia dewasa yang sah, juga dikenal sebagai usia mayoritas, ia akan menjalani hidupnya sendiri tanpa bergantung pada orang tuanya. Sayangnya, kebanyakan orang tua merasa bahwa kehidupan anak-anaknya adalah milik mereka selamanya, sehingga anak-anak seringkali tetap berada dalam kekuasaan orang tua hingga dewasa.
Padahal sejak remaja, anak sudah harus mulai belajar mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri, termasuk dalam urusan asmara. Karena bagaimanapun juga, dunia anak adalah milik anak itu sendiri dan yang memegang kendali penuh adalah dirinya sendiri.
Maka jangan heran ayah bunda jika saat anak mulai mengenal cinta, mereka sedikit memberi jarak pada orang tuanya dan memilih lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya.
belajar bersosialisasi
Bersosialisasi bukan hanya tentang bertemu banyak orang atau memiliki beberapa teman dekat. Sosialisasi juga mencakup hubungan cinta anak.
Melalui hubungan cinta, anak akan belajar tentang komitmen, kesetiaan, kerja sama, dan komunikasi yang sehat antara dua orang yang diharapkan hidup bersama.
Tentunya sebelum mengetahui apa itu komitmen dalam hubungan cinta, anak terlebih dahulu belajar melalui hubungan orang tuanya sendiri. Baru setelah mereka beranjak remaja barulah anak-anak mempraktekkan apa yang mereka pelajari di rumah, ketika mereka kemudian menjalin hubungan cinta.
Baca juga:
Kecemburuan Keibuan, Kontroversi Kecemburuan antara Ibu dan Putri
Belajar bersosialisasi dengan memulai suatu hubungan jelas tidak cukup hanya dengan berbicara di sekolah. Anak-anak akan mulai meminta izin untuk pergi dengan pacarnya hanya untuk mencoba restoran yang sedang populer di kalangan anak muda, menonton film di bioskop atau bermain di taman hiburan seperti pasangan remaja lainnya.
Tentu saja, anak-anak tidak ingin mengajak orang tuanya untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh remaja lainnya, bukan?
Proses pencarian jati diri
Perlu diketahui orang tua bahwa anak yang dapat digoyang terlebih dahulu akan tumbuh besar, dewasa dan tidak lagi membutuhkan bantuan orang tua. Orang tua seringkali merasa sakit hati ketika anak yang baru menginjak usia remaja disibukkan dengan kehidupan asmaranya, yang seringkali diremehkan oleh orang tua dengan label ‘puppy love’.
Karena kesalahpahaman ini, orang tua sering kali membatasi anaknya untuk mengurangi frekuensi kencan dengan pacarnya, atau bahkan dilarang berkencan agar sang anak tidak jauh dari orang tuanya. Padahal belajar mengenal cinta juga termasuk dalam proses pencarian jati diri.
Memang dalam prosesnya, si anak pasti lebih banyak memilih pacarnya daripada orang tuanya. Namun, bagaimanapun juga, orang tua harus berperan sebagai pendengar yang baik ketika anaknya mulai mengenal cinta, agar tidak ragu untuk curhat dan sesekali meminta nasihat. (Berbaris)
Baca juga:
Apa yang harus Anda lakukan saat ‘tertangkap basah’ oleh seorang anak saat bercinta?





