Optimisme UMKM di Tengah PPKM

Peranan UMKM yang selalu handal dan bertahan di tengah krisis yang terjadi di Indonesia terbukti menandai bahwa UMKM merupakan pemeran strategis dalam mengendalikan stabilitas perekonomian di Indonesia.

Kesuksesan UMKM bertumbuh dan berkembang di Indonesia ini pula yang memantapkan bahwa lahirnya UMKM di berbagai sektor memberikan kontribusi terdepan di dalam perekonomian nasional. Bahkan MenkopUMKM, Teten Masduki menyebutkan lebih dari 64 juta UMKM berkontribusi 14 persen terhadap total ekspor non migas, 60 persen total investasi, 97 persen total tenaga kerja, dan 61 persen total PDB nasional.

Angka-angka tersebut sangat fantastis dan membanggakan. UMKM telah menunjukkan eksistensinya. Terbentuknya UMKM di daerah memberikan harapan sekaligus lompatan besar kesuksesan UMKM. Tak pelak bahwa pemerintah mendorong terwujudnya UMKM-UMKM baru.

Namun di tengah pandemi covid-19 dimulai sejak awal tahun 2020, periode yang cukup sulit bagi UMKM yang ingin bangkit. Pandemi covid-19 di bulan Maret 2020, Indonesia pun menerapkan PSBB. Pembatasan ini menjadikan pelaku UMKM sedikit demi sedikit menutup gerainya. Semua perencanaan gagal total.

Baca juga:  Film Nasional Berpromosi melalui VideoTron, Billboard dan GPR TV

Terbukti banyaknya UMKM harus putar haluan bahkan membatasi karyawannya. Banyak UMKM yang tidak dapat bergerak karena pembatasan sosial. Dampak dari PSBB sangat dirasakan membuat pelaku UMKM tidak mampu berbuat banyak dan cenderung berhati-hati. Satu tahun berlanjut, perubahan UMKM tidak signifikan.

Terutama pelaku UMKM di daerah, bahkan mereka sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah atas keadaan yang terjadi. UMKM sebagai tonggak perekonomian sangat terkoreksi oleh kebijakan pemerintah dalam menerapkan PPKM Darurat sampai PPKM Level 3 dan Level 4.

Akibat dari PPKM Level ini menjadikan UMKM justru semakin terbebani, konsumen jarang datang, produksi terhambat, karyawan satu per satu pergi, dan tentu ini memukul pelaku usaha dan situasi dalam satu bulan ini benar-benar membuat seluruh pelaku UMKM menjerit.

Diperlukan strategi khusus bagi UMKM setidaknya memberikan peluang dan kesempatan. Pelaku usaha dapat melakukan analisis SWOT terlebih dahulu secara sederhana. S (Kekuatan) dalam UMKM tentu saja produk-produk yang dapat memberikan kekuatan sehingga pelanggan tetap dapat membeli produk tersebut. Kekuatan produk UMKM dapat diinisasi ke dalam bentuk digital. W (Kelamahan) dari produk UMKM perlu disiasati. Kelemahan harus diminimalisir, meskipun dalam kondisi PPKM. O (Kesempatan) dalam produk UMKM tentu saja adanya PPKM sebagai momentum.

Baca juga:  Babak 32 Besar Celebes Open 2 in 1 Nasional Championship Terasa seperti Final : Okezone Sports

Momentum untuk berbenah, mengevaluasi, serta melihat peluang dari aspek digital. Produk dapat dipasarkan ke dalam marketplace digital. Terakhir, T (Ancaman) maka pelaku usaha harus memastikan dalam kondisi PPKM ini yang mengancam dalam kelangsungan produksi maupun promosi dapat diantisipasi setelah mengetahui kondisi seperti ini.

Dengan mengetahui secara teknis analisis SWOT, pelaku usaha UMKM dapat bergerak secara perlahan untuk menata kembali usahanya. Memang tidak mudah, namun diperlukan dalam mengantisipasi ketercapaian dari usahanya. Pelaku usaha dapat secara bertahap mengidentifikasi kembali aset yang dimiliki.

Keharusan untuk mengidentifikasi aset usaha sangat penting. Poinnya agar pelaku UMKM sadari bahwa usaha harus tetap bergerak dan menjadi motor penggerak bagi perekonomian lokal dan nasional.

Analisis SWOT sebagai satu langkah dasar bagi pelaku UMKM ini perlu disosialisasikan. Dengan harapan agar pelaku UMKM dapat bergerak lebih cepat bahwa usahanya tetap bisa bertahan di tengah pandemi. Di samping penyerapan bantuan UMKM sangat membantu bagi berjalannya usaha.

Dari hasil analisis SWOT ini nantinya akan menjadi landasan pacu pelaku UMKM untuk mendiagnosis usahanya. Setidaknya, ada acuan bagi pelaku UMKM agar tetap optimis tinggi menghadapi covid-19. (*)

Baca juga:  Duh, Keamanan IT UMKM Paling Rentan

Penulis :

 

Muh. Husen Arifin

 

 

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru dan Mahasiswa S3 Pendidikan IPS Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia