MerahPutih.com – Pemerintah DKI Jakarta harus berkomitmen untuk mempercepat pembangunan angkutan umum untuk mengatasi masalah pencemaran udara di ibu kota yang semakin parah.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, terjadi krisis angkutan umum yang sangat terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Proporsi jenis kendaraan di Indonesia pada tahun 2021 berjumlah 141.992.573 kendaraan.
Terdiri dari sepeda motor 120.042.298 unit (84,5 persen), mobil penumpang 16.413.348 unit (11,6 persen), mobil barang 5.299.361 unit (3,7 persen) dan sisanya 257.565 unit bus (0,2 persen).
Baca juga:
Pembatasan kendaraan bisa mengurangi kualitas udara Jakarta yang buruk
“Memang jumlah angkutan perkotaan kurang dari 0,2 persen, karena masih ada angkutan umum antar kota (AKAP) antarprovinsi, angkutan umum antar kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan perdesaan yang populasinya sangat minim,” kata Djoko kepada itu merahputih.com, Senin (12/6).
Hal ini menunjukkan populasi angkutan umum yang minim dan populasi terbesar adalah sepeda motor, yang tentunya akan lebih banyak mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Karena itu, Djoko yakin, semakin banyak warga yang beralih dari angkutan pribadi ke angkutan umum dapat menekan gas buang di udara. Karena tidak banyak kendaraan pribadi yang keluar bergerak. Sehingga langkah ini bisa menghemat polusi udara.
“Ini benar (transportasi umum bisa mengatasi kualitas udara di Jakarta). Juga di kota-kota metropolitan lainnya,” ujarnya.
Baca juga:
Anggota DPRD DKI menerima keluhan warga yang sakit karena kualitas udara yang buruk
FYI, seperti dikutip dari IQAir, baru-baru ini pada periode 3 hingga 12 Juni 2023, kualitas udara Jakarta berkisar antara 110 hingga 152 AQI.
Jakarta menempati urutan keempat di wilayah paling berpolusi di Indonesia, di bawah Cileungsir, Jawa Barat dengan 162 AQI; Tangerang Selatan, Banten dengan 157 AQI; dan Pasarkemis, Banten dengan 155 AQI.
Selain indeks kualitas udara yang rendah, nilai polutan PM2.5 di wilayah Jakarta juga cukup tinggi yaitu 57,6 µg/m³. Konsentrasi PM2.5 ini adalah 11,5 kali nilai pedoman kualitas udara tahunan WHO.
Sebagai informasi, kualitas udara yang buruk dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. WHO mencatat bahwa polusi udara membunuh sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya, dan sekitar 9 dari 10 orang di dunia menghirup udara yang buruk.
Beberapa penyakit bahkan membayangi masyarakat yang tinggal di daerah dengan kualitas udara buruk, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, bronkopneumonia, penyakit kardiovaskular, dan kanker. (asp)
Baca juga:
Buruknya AC di Jakarta, Pemprov DKI diimbau jaga kesehatan warga
