PANGANDARAN – Pelantikan pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Pangandaran masa khidmat 2025–2029 berlangsung khidmat di bawah naungan semangat kebangsaan dan nilai-nilai keislaman inklusif. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 12 Juli 2026 malam. Acara inaugurasi yang dihadiri oleh ratusan kader, banser, serta tokoh Nahdlatul Ulama (NU) setempat ini menjadi panggung penegasan kembali komitmen ideologis nahdliyin terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

​Hadir dalam kapasitasnya sebagai Penasehat GP Ansor Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata menyampaikan pidato kebangsaan yang sarat makna. Dalam kesempatan tersebut, Mantan Bupati Pangandaran ini juga menyampaikan pesan khusus dari sang istri, Ida Nurlaela Wiradinata, yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI.

​Ida Nurlaela menitipkan ucapan selamat kepada seluruh jajaran pengurus baru PC GP Ansor agar senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, serta kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan dengan sebaik-baiknya di tengah masyarakat.

Menyanyikan ‘Hubbul Wathan’, Mengingat Fondasi Bangsa

​Ada momen menarik di tengah acara ketika Jeje Wiradinata membawakan sepenggal lirik dari lagu legendaris Hubbul Wathan Minal Iman ciptaan KH Abdul Wahab Hasbullah. Di hadapan ratusan pasang mata jamaah yang hadir, bait demi bait dikumandangkan: “Pusaka hati wahai tanah airku, cintaku dalam imanku, jangan halangkan nasibmu, bangkitlah hai bangsaku…”

​Lagu ini bukan sekadar pelengkap seremonial. Ia memuat manifesto teologis bahwa cinta tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang muslim (hubbul wathan minal iman). Menurut Jeje, pesan kebangsaan ini sangat kontekstual dengan dinamika pengabdian yang tengah dihadapi di panggung nasional saat ini.

​”Kita semua, baik pengurus PCNU, Banser, maupun seluruh hadirin, adalah pewaris nilai-nilai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus pewaris nilai-nilai perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Itu adalah hal yang paling fundamental,” ujarnya di atas podium.

Korupsi Mewabah Akibat Krisis Iman dan Cinta Tanah Air

​Lebih jauh, Jeje merefleksikan kondisi bangsa di tingkat nasional yang masih dibayangi oleh krisis integritas. Dinamika sosial politik dan maraknya kasus korupsi dinilai berakar dari hilangnya dua pilar utama dalam jiwa seorang abdi negara: yaitu cinta tanah air yang tulus dan kekuatan iman.

​”Korupsi yang mewabah seperti sekarang ini terjadi karena kekurangan dua nilai itu, nilai cinta tanah air dan nilai keimanan. Bagi kader NU, bagi kita semua, kedua hal ini harus berada dalam satu helaan napas,” tegas Jeje disambut riuh tepuk tangan hadirin.

​Kecintaan terhadap NU diakui Jeje telah tertanam sejak masa kecil, yang salah satunya diwariskan oleh gurunya, almarhum Pak Dar Sujafman. Sejak dini, para kader NU dididik untuk menyeimbangkan kewajiban sebagai seorang muslim yang taat sekaligus menjadi warga negara yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI. Bagi mereka, pengamalan hubbul wathan minal iman bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang nyata.

​Menutup rangkaian acara, Jeje—yang kini istrinya, Ida Nurlaela, aktif berkiprah di tingkat nasional—memohon doa restu dari segenap masyarakat agar selalu diberikan kekuatan, keteguhan iman, serta keberkahan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.