SEPUTARPANGANDARAN.COM – Kondisi pandemi COVID-19 yang tidak menunjukkan tanda penurunan meski sudah lebih dari tujuh bulan berlangsung, menyebabkan beragam dampak multisektoral pada setiap lapisan masyarakat.

Laporan terakhir per tanggal 29 September 2020 jumlah terkonfirmasi positif mencapai 282.724 jiwa dengan total kematian 10.601 jiwa. Hal ini berdampak signifikan pada perekonomian bangsa yang dilaporkan mengalami penurunan pada kuartal pertama dan kedua tahun 2020 bila dibandingkan tahun lalu. pertumbuhan ekonomi bahkan menyentuh angka -5,32% di kuartal kedua tahun ini. Tentu saja jika kondisi ini tetap bertahan, ancaman akan terjadinya resesi ekonomi bukan merupakan suatu hal yang tidak mungkin.

Sektor perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor yang juga terdampak pandemi covid-19. Namun begitu, di antara yang lainnya sektor ini masih menunjukan geliat perekonomian yang relative lebih baik dan prima.

Pemerintah yakin dan optimis bahwa sektor ini akan mampu menggerakan perekonomian bangsa saat pandemi COVID-19 berlangsung sekaligus pasca Pandemi.

Berbagai program diluncurkan oleh pemerintah melalui kementrian kelautan dan perikanan yang mendorong dan memfasilitasi peningkatan produksi baik perikanan budidaya maupun tangkap serta distribusinya ke seluruh 34 provinsi di Indonesia.
Kabupaten Pangandaran memiliki potensi pengembangan budidaya laut yang cukup besar dengan beberapa komoditas unggulan dengan nilai ekonomi tinggi.

Salah satu diantaranya adalah ikan King Kobia (Rachycentron canadum) yang merupakan komoditas unggulan baru rintisan dari kementrian kelautan dan perikanan.

Karakteristik ikan ini yang kuat dan tahan penyakit membuat produksinya cukup terjangkau dengan nilai jual yang tinggi sehingga menjanjikan untuk investasi. Daging dari ikan ini juga enak, empuk serta dapat diolah menjadi beragam aneka olahan.

Sebagai tambahan, daging king kobia berwarna putih sehingga lebih digemari khususnya oleh konsumer dari internasional sehingga potensi ekspornya akan sangat tinggi.

King Kobia yang dipelihara di KJA Pantai Timur Pangandaran
Praktik budidaya king kobia di Kabupaten Pangandaran sendiri sudah mulai dilakukan oleh beberapa kelompok pembudidaya yang dibina oleh kementrian kelautan dan perikanan melalui unit pelayanan terpadu (UPT) Perikanan Air Payau dan Laut Wilayah Selatan (PAPLWS).

Pemeliharaan dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA) di sekitar pantai pesisir Pangandaran. Pertumbuhan king kobia di perairan Kabupaten Pangandaran terbilang baik dengan laju yang tinggi serta ketahanan akan penyakit yang baik.

Permasalahan ditemukan pada pakan, karena king kobia diberi pakan alami berupa rucah. Ketersediaan ikan rucah yang berfluktuasi seiring dengan musim tangkapan menyebabkan harganyapun berfluktuasi, sehingga dibutuhkan strategi untuk mengatasi hal ini.

Selanjutnya komoditas ini direncanakan untuk menjadi komoditas utama dan unggulan di Kabupaten Pangandaran. Dituturkan oleh Dirjen Perikanan Budidaya, Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si., produksi king kobia akan didorong untuk mencapai 100 ton di tahun ini, baik untuk tujuan ekspor maupun konsumsi domestik.

Kobia merupakan ikan pelagis besar yang terdistribusi di sekitar perairan hangat terutama wilayah tropis. Produsen terbesar ikan ini umumnya adalah China, Taiwan dan Vietnam. Ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang 2 meter dan berat 68 kilogram.

Kobia merupakan spesies yang bermigrasi tahunan dengan pola migrasi yang dapat diprediksi. Usia reproduksi pada jantan dilaporkan terjadi pada 1 hingga 2 tahun sedangkan pada betina di usia 2 sampai 3 tahun. Umumnya betina memiliki karakteristik pertumbuhan yang lebih besar dan cepat dengan ukuran maksimal mencapai 60 kilogram.

Larva dari spesies ini juga relative tumbuh jauh lebih cepat dan besar dibandingkan kebanyakan spesies lainnya, dengan ukuran 3,5 mm saat baru menetas.

Makanan yang umum dimakan oleh kobia diantaranya adalah berbagai jenis ikan-ikan berukuran kecil, udang, cumi-cumi dan juga kepiting.

Umumnya kobia yang dibudidaya oleh Taiwan mencapai berat 6 hingga 8 kilogram dengan masa pemeliharaan 1-1,5 tahun. Namun spesies yang dikembangkan oleh KKP yaitu king kobia dapat tumbuh lebih cepat, pada ukuran yang sama namun kurang dari satu tahun saja.

Hal ini yang diyakini dapat menjadikan produksi king kobia menguntungkan bagi subsektor perikanan budidaya di Indonesia.
Selain ikan ini, beberapa komoditas lain seperti bawal bintang (Trachinotus blochii) dan kerapu cantang (Ephinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) juga menjadi unggulan subsektor perikanan budidaya di Kabupaten Pangandaran. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan dari para ahli, termasuk pemerintah, praktisi, akademisi dan masyarakat, upaya untuk mewujudkan pusat kawasan budidaya laut (mariculture) di Kabupaten Pangandaran pasti dapat tercapai dalam waktu dekat.

Diharapkan dengan penguatan kapasitas perikanan budidaya ini dapat membantu memulihkan perekonomian pasca pandemi COVID-19.

Penulis :
Rega Permana, S.Kel., M.S.
Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran