SEPUTARPANGANDARAN.COM, Kementerian Keuangan tetap memperlihatkan optimistis defisit Anggaran Pendapatan juga Belanja Negara (APBN) 2023 akan di tempat bawah 2,3%, walau ancaman perekonomian global lalu domestik menghantui.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu menyampaikan, pada Laporan Sementara APBN 2023 pada Juli 2023 lalu, outlook defisit APBN ditargetkan 2,3%.
Akan tetapi, dengan mengamati perkembangan dinamika perekonomian domestik pada waktu ini yang digunakan masih resilien, Febrio optimistis defisit APBN 2023 akan berada di area bawah 2,3%.
“Ketika menerbitkan Lapsem outlook defisit 2,3%. Dengan dinamika sekarang, kesempatan defisit kita lebih banyak rendah 2,3% memang benar terlihat semakin nyata. Sehingga ini menjadi modal bagi APBN kita untuk masih mampu berfungsi sebagai shock absorber,” tutur Febrio di konferensi pers, hari terakhir pekan (24/11).
Febrio menyampaikan, meskipun dinamika perekonomian global sedang memanas, seperti terjadinya geopolitik, lalu pelemahan sektor ekonomi China, perekonomian Indonesia masih tetap saja solid.
Hal yang dimaksud terbukti dengan adanya penyesuaian penerimaan perpajakan yang digunakan meningkat dari Lapsem yang tersebut disampaikan pada Juli lalu. Meningkatnya penerimaan yang disebutkan tertuang dalam, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2023 untuk merevisi Peraturan Presiden Nomor 130 Tahun 2022 mengenai rincian APBN 2023.
Penerimaan perpajakan pada Perpres 75/2023 ditetapkan sebesar Rupiah 2.118, 34 triliun atau naik 4,8% dari target awal pada Perpres 130/2023 sebesar Simbol Rupiah 2.021,2 triliun.
“APBN kita di tempat awal bersifat forward looking, sehingga antisipatif lalu ini telah terbukti bahwa dalam perkembangan dari sisi penerimaan ini lebih banyak baik dibandingkan APBN yang digunakan telah kita siapkan. Sehingga di area outlook di Lapsem kemarin kita lakukan penyesuaian yang mana lebih tinggi mencerminkan kondisi terkini,” ungkapnya.
Kemudian, dari sisi belanja, Febrio menyampaikan belanja negara masih masih kuat untuk menopang pemulihan ekonomi dan juga mengupayakan konsumsi masyarakat.
Pemerintah juga melakukan penebalan bansos beras Simbol Rupiah 10 kg untuk 22 jt KPM hingga akhir tahun, juga menambah bantuan El nino Simbol Rupiah 400 ribu untuk 18,8 jt KPM.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, defisit anggaran pada tahun ini mencapai Rupiah 486,4 triliun atau 2,28% dari PDB. Defisit APBN ini lebih banyak rendah dari periode serupa tahun lalu yang tersebut sebesar 2,35% atau sebesar Simbol Rupiah 460,4 triliun.
Sementara itu, keseimbangan primer akhir tahun diperkirakan mengalami defisit Mata Uang Rupiah 49,0 triliun, lebih besar rendah dari target yang dimaksud sebesar Rupiah 74,1 triliun.
Sumber: Kontan





