Kemenag dan DPRD Pangandaran, Bahas Penerapan Protokol Kesehatan di Pondok Pesantren

SEPUTARPANGANDARAN.COM – Kementerian Agama Kabupaten Pangandaran, Komisi I dan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) membahas penerapan protokol kesehatan di pondok pesantren dalam rangka menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal.

Ketua Komisi I DPRD Kab Pangandaran, H. Adang Sudirman sebagai pimpinan rapat mengatakan bahwa pertemuan ini dilaksanakan untuk menindaklajuti Keputusan Gubernur Jabar No: 443/Kep.321-Hukham/2020 tentang Protokol Kesehatan untuk Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Lingkungan Pondok Pesantren.

“Kami ingin memastikan kesiapan pondok pesantren dalam penerapan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran COVID-19 di Kabupaten Pangandaran,” tutur Adang, Rabu (17/06).

Kepala Kemenag Kab Pangandaran H. Cece Hidayat mengatakan bahwa berdasarkan hasil verifikasi, saat ini di Kabupaten Pangandaran tercatat 128 pondok pesantren yang aktif sedangkan 45 pesantren sudah tidak aktif dengan jumlah santri tercatat 12.594 orang.

“Saat ini pesantren masih belum menyelenggarakan proses pembelajaran secara tatap muka, karena masih mengacu pada Surat Edaran Bupati Pangandaran No : 443/1472/BPBD/2020 tentang Perpanjangan Pelaksanaan PSBB secara Proporsional di Kab Pangandaran,” ujar Cece.

Baca juga:  Empat Atlet Polo Air Putri Pangandaran Perkuat Tim Jabar di Indonesia Open Aquatic Championship

Namun terkait kesiapan penerapan protokol di pondok pesantren, Cece berharap dapat bersinergi dengan pihak-pihak terkait penyediaan perlengkapan menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan drg. Yani Achmad Marzuki yang juga hadir dalam rapat gabungan ini menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pondok pesantren untuk melakukan penyemprotan disinfektan.

Dalam rapat gabungan yang digelar di Ruang Badan Musyawarah DPRD Kab Pangandaran hadir juga Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP), Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Alquran (FKPQ).

Mereka sepakat untuk menerapkan protokol kesehatan di pondok pesantren yang diasuhnya.***