Join Dong, Wadah untuk Main Hati dengan Teman Satu Frekuensi

DAN SAYA Muh Shabrani khawatir karena tidak punya teman untuk pergi ke konser musik. karena ini malas nonton konser sendirian, pendiri Join Dong Community ini kangen sederet penampilan musik keren. Dia berkali-kali gagal melihat musisi dan penyanyi favoritnya karena dia tidak punya teman sefrekuensi yang bisa menikmati konser.

“Teman-teman di kampus tidak ada yang punya frekuensi itu (untuk menonton acara), jadi saya ikutuntuk melompat sejumlah acara karena saya tidak punya teman,” katanya kepada merahputih.com.

Baca juga:

Tanda Anda Tidak Mempermainkan Pasangan Anda

Pria yang dikenal sebagai Randy itu memeras otak. Dia bertekad untuk tidak melewatkan kesempatan lain di acara musik terkenal hanya karena dia tidak punya teman untuk pergi ke konser. Terakhir, Randy membuat komunitas Join Dong, komunitas anggota yang menyukai acara musik.

“Mengapa saya tidak melakukan (pertunjukan komunitas) saja?” kata Randy bercerita tentang pertama kali ia memiliki ide untuk membuat komunitas Join Dong.

Bergabunglah dengan kegembiraan Dong di pesta karaoke. (Foto: Instagram/@joindong_)

Perjalanan Randy untuk membangun Join Dong tidaklah mudah. Ia mulai membuat komunitas tersebut pada Februari 2020. Sayangnya, beberapa bulan setelah mendirikan komunitas ini, pandemi COVID-19 melanda Indonesia, memengaruhi berbagai industri seperti pertunjukan musik.

Baca juga:  Ini yang Bikin vivo V27 Series Jadi Menarik untuk Mobile Gaming

Baru setelah pandemi menguntungkan, komunitas Join Dong perlahan-lahan memiliki anggota. Ia mulai merekrut dan mengajak orang lain untuk menjadi anggota Join Dong melalui grup Line, kemudian beralih ke Telegram dan berakhir di platform Discord.

Saat itu, Discord masih asing bagi anggota Join Dong. Namun, berkat kemauan keras, anggota Join Dong bersedia belajar cara menggunakan Discord. Randy yang sudah memahami cara kerja Discord tidak segan-segan mengantisipasi dan selalu meluangkan banyak waktu untuk mengajari anggotanya cara menggunakan platform ini.

Baca juga:

5 hewan ini bermain hati untuk bertahan hidup

“Dari wawasan Discord kami, hampir 80% orang (anggota komunitas) mengunduh Discord untuk pertama kali,” kata Randy.

Seiring waktu, keanggotaan Join Dong terus bertambah. Karena seringnya memposting kegiatan Join Dong di media sosial, akhirnya banyak orang yang tertarik untuk bergabung dengan komunitas ini.

Randy mengaku masih banyak pecinta musik di luar sana yang mencari teman untuk nonton bareng. Setiap kali seseorang mengomentari unggahan Gabung Dong, Randy akan dengan cepat menanggapi komentar tersebut sambil menawarkan undangan untuk bergabung. “Ternyata bukan hanya saya yang mencari teman untuk pergi ke acara, ada banyak teman,” kata Randy.


Menghadiri konser musik Join Dong selalu menyenangkan. Para anggota sering menikmati pertunjukan musik sambil bergoyang bersama. Bahkan, berkat banyaknya anggota Join Dong, mereka juga bisa membuat segudang dokumentasi yang sangat menarik karena beberapa anggota memang jago merekam konten.

Baca juga:  Valve dilaporkan sedang mengerjakan sistem 'catatan permainan' untuk Steam

Karena keberadaan Join Dong, Randy mengaku ada musisi atau penyanyi yang mengetahui keberadaannya di sana. lokasi menunjukkan. Pasalnya, sesekali Join Dong juga tampil dengan pakaian yang menarik perhatian. Misalnya saat mengikuti Playlist Live Festival di Bandung yang digelar beberapa waktu lalu. Karena setiap anggota mengenakan seragam sekolah, para musisi yang tampil saat itu mengapresiasi kehadiran mereka. “Saya tidak bisa membayangkan kami bisa-untuk memahami dengan mereka,” kata Randy.

Randy berharap Join Dong kedepannya tidak hanya menjadi ajang bertemu teman untuk nonton konser. Ia ingin komunitas ini menjadi wadah bagi semua orang untuk mencari teman yang memiliki hobi yang sama seperti olahraga, kegiatan bermanfaat lainnya, bahkan mencari teman untuk bergaul. “Oleh karena itu, semua kegiatan yang membutuhkan teman bisa didapatkan di Join Dong,” tutupnya. (Anda)

Baca juga:

Anak bebas, pilihan untuk tidak bermain dengan hati anak-anak?



Source link