BERITA  

Jalan Tol Bandung-Cilacap Ditargetkan Beroperasi 2024, Estimasi Anggaran Rp57 Triliun

SEPUTARPANGANDARAN.COM – Proyek pembangunan Jalan Tol Bandung – Tasikmalaya – Cilacap terus dibahas. Pemerintah menargetkan pada Desember 2020, proses penentuan lokasi (Penlok) sudah rampung.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan Jalan Tol Bandung – Cilacap Ade Sudrajat membenarkan bahwa progres pembangunan Jalan Tol Bandung Cilacap sedang dalam tahapan untuk penlok.

“Kemarin kita mulai dari Bandung, Soreang, Garut, Tasik, Ciamis hingga Pangandaran trus membahas terkait penlok yang ditargetkan selesai Desember tahun ini. Dan sudah tidak ada kendala,” kata Ade, Rabu, 22 Juli 2020 lalu.

Untuk bidang yang terambil pembangunan Tol untuk Jabar ada sekira 13 ribu bidang di 32 kecamatan, tujuh kabupaten/kota.

Panjangnya sekitar 206,6 km dengan estimasi total biayanya sebesar 57 triliun.

“Yang paling penting kan pembebasan lahan. Seperti yang kita tahu, biasanya proses lama itu di pembebasan lahan. Kalau fisik, 2 tahun juga selesai. Tapi target tetap tidak berubah dimana tahun 2024 tol ini sudah bisa dioperasikan” katanya.

Disinggung nama untuk Jalan Tol Bandung – Cilacap kata Ade hingga kini belum ada nama.

Baca juga:  Tradisi Bangunkan Warga Menjelang Sahur di Pangandaran Masih Lestari

“Nama Itu baru akan ada saat pembangunan selesai. Gubernur nanti yang mengusulkan nama, selanjutnya kementerian yang menentukan,” jelas Ade.

Exit tol di Kalipucang

Sementara Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menjelaskan, berdasarkan hasil ekspose Pemprov Jawa Barat terkait rencana pembangunan jalan tol, di wilayah Pangandaran terdapat satu pintu keluar atau exit tol di wilayah Kecamatan Kalipucang Pangandaran.

Namun pintu keluar tol ini masih cukup jauh dan kurang memadai untuk menuju Pangandaran.

Selain itu dari Kalipucang ke Pangandaran kondisi lebar jalannya masih relatif kecil dan harus melalui jalan berkelok di daerah Emplak Kalipucang.

“Kami memang harus mempersiapkan jalan dari pintu keluar menuju Pangandaran, agar akses jalan darat semakin maksimal,” kata Jeje.

Selain itu Pangandaran juga harus terus berbenah agar ketika jalan tol sudah kelar, kondisi wisata di Pangandaran pun sudah tertata dengan baik.

“Pembangunan pengembangan wisata yang sudah kami lakukan ini baru tahap penataan kawasan saja, memindahkan kaki lima dari pinggir pantai, memindahkan perahu dari pantai barat ke pelabuhan, dan beberapa langkah strategis lainnya. Pola-pola kebijakan yang akan datang yang harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pangandaran, agar Pangandaran siap,” ujar Jeje.

Baca juga:  Panjat Pagar, Maling Gondol Kotak Amal Masjid di Pangandaran

Satu agenda yang harus dilakukan adalah menyebar keramaian wisata agar tak terpusat di pantai Pangandaran saja.

“Kita ingin 91 km panjang pantai yang kita miliki dan potensi wisata alam perbukitan bisa dimaksimalkan,” kata Jeje.

Selain itu, kata Jeje untuk menyedot wisatawan supaya datang ke Pangandaran adalah dengan meyakinkan maskapai penerbangan supaya membuka rute penerbangan ke Pangandaran.

“Kita harus bersama-sama meyakinkan agen atau maskapai penerbangan untuk mendatangkan pesawatnya ke Pangandaran. Kita ingin besok ada penerbangan Jakarta – Pangandaran, Jogja – Pangandaran dan sebagainya,” kata Jeje.***