Indostrtategic: PDIP pertegas sikap urusan politik dengan Jokowi
Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menyatakan PDI Perjuangan telah lama lama mempertegas sikap urusan urusan politik dengan Joko Widodo.
"Pengumuman Mahfud MD selaku akan datang cawapres pendamping Ganjar dalam saat Presiden Joko Widodo sedang melakukan lawatan luar negeri, sanggup dimaknai PDIP ingin secara tegas memutus ketergantungan politiknya pada figur Joko Widodo," katanya dalam keterangan tertoreh di tempat tempat Jakarta, Rabu.
Dosen Universitas Paramadina itu berpendapat tak dilibatkannya Jokowi dalam pengambilan keputusan penentuan cawapres Ganjar, seolah mempertegas sikap PDIP yang tersebut digunakan ingin membuktikan mesin politiknya yang digunakan hal itu independen, tetap kokoh, dan juga juga tiada lagi bergantung kepada ketokohan kemudian populisme Jokowi.
Bahkan kata dia, hal itu juga dikonfirmasi oleh penundaan pemanggilan putra Jokowi Gibran Rakabuming Raka oleh Sekjen DPP PDIP Hasto Kristianto, terkait wacana pencawapresannya setelah keluar putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
"PDIP bukan lagi mempertimbangkan variabel Jokowi dalam menjalankan mesin politiknya," katanya menegaskan.
Sebelumnya, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengumumkan Mahfud MD sebagai akan datang calon delegasi presiden (bacawapres) yang tersebut dimaksud mendampingi Ganjar Pranowo dalam kontestasi pemilihan umum Presiden (Pilpres) 2024.
"Hari ini, Rabu 18 oktober 2023 saya dengan mantap diri saya ambil keputusan ke semua, saya tujukan sebesar-besar bagi kepentingan rakyat, bangsa juga negara dengan ucapkan bismillahirrahmanirrahim calon perwakilan presiden yang mana dipilih PDIP yang digunakan digunakan akan dampingi Ganjar Pranowo adalah Prof Dr Mahfud MD,” kata Megawati dalam Kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu.
Pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD diusung partai kebijakan pemerintah yakni PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) kemudian Partai Persatuan Indonesia (Perindo).
Sumber: Antara


