Indeks

Ikan Sidat, Belut Bertelinga yang Makin Jarang Ditemukan di Pangandaran

Ikan sidat ini bentuknya mirip seperti belut. Salah satu perbedaannya adalah sidat memiliki sirip, sementara belut tidak. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai ‘Belut Bertelinga‘ karena keberadaan sirip dadanya menyerupai daun telinga.

Sidat dikenal pula dengan nama lain moa, lubang, dan uling (Jawa Barat); sedangkan di Jawa Tengah menyebutnya dengan nama pelus. Sidat telah dikenal sebagai salah satu jenis ikan yang sangat digemari dan bernilai tinggi, terutama negara seperti Jepang, Italia, Denmark, Spanyol dan Prancis karena daging sidat banyak mengandung lemak tak jenuh dan vitamin E yang tidak terdapat pada ikan lain sehingga rasanya gurih.

Ikan ini juga memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dibandingkan hewan ternak lain. Sidat yang dikenal dengan ’unagi’ di Jepang sangat mahal harganya karena memiliki kandungan vitamin, DHA (Decosahexaenoic acid) dan EPA (Eicosapentaenoic Acid) yang tinggi.

Daging sidat memiliki kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100g, sedangkan hati sidat lebih tinggi lagi, yaitu 15.000IU/100g. Kandungan DHA ikan sidat 1.337mg/100g bahkan mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820mg/100g atau tenggiri 748mg/100g. Sidat juga memiliki kandungan EPA mencapai 742 mg/100g, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 g dan tenggiri yang hanya 409mg/100g. Kandungan energi sidat pun lebih besar dari telur ayam yang mencapai 270kkal/100g.

Dulu ikan sidat sering ditemukan dan menjadi tangkapan para pemancing, antara lain di Sungai Citanduy, daerah Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, yang banyak digunakan sebagai tempat memancing.

Sayangnya, akhir-akhir ini sidat sudah jarang ditemui, menghilang dari habitatnya di sungai-sungai dan muara. Menu pepes sidat yang dulunya sering ada di rumah makan atau warung nasi yang ada di Pangandaran juga semakin langka. Padahal sidat tersebut sangat lezat dan gurih, serta tekstur dagingnya berbeda jenis ikan lain.

Sidat yang merupakan keluarga Anguilla memiliki banyak jenis. Menurut Fahmi (2012), terdapat 19 spesies-subspesies genus Anguilla, 14 spesies-subspesies mendiami perairan tropis dan 7 diantaranya ditemukan di perairan Indonesia. Jenis Anguilla bicolor, dan Anguilla marmorata merupakan sidat yang memiliki nilai ekonomis penting di Indonesia.

Sebenarnya potensi Indonesia untuk pemeliharaan sidat cukup baik karena memiliki potensi benih yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan benih sidat. Pemeliharaan sidat ini masih sangat bergantung pada stok benih dari alam, karena sampai sekarang belum ada yang berhasil membenihkan sidat.

Proses pemijahan telah berhasil dilakukan para ilmuwan Jepang dengan merekayasa lingkungan pemijahan dan penetasan telur-telur sidat, namun setelah telur menetas, larva tidak bisa bertahan hingga dewasa. Upaya lain yang sedang dikembangkan oleh para ilmuwan adalah dengan melakukan rekayasa genetik sidat dan untuk melakukannya, terlebih dahulu harus diketahui karakteristik genetiknya. Penangkapan sidat yang terus menerus juga dapat mengganggu kestabilan stok sidat di perairan.

Ikan sidat ini memiliki daur hidup yang unik yaitu sering berpindah atau migrasi. Migrasi ikan sidat ini dikenal dengan istilah katadromous, dimana ikan sidat mengawali hidup di laut, selanjutnya bermigrasi ke air tawar untuk tumbuh menjadi dewasa di perairan tersebut, dan kembali ke laut untuk melakukan proses pemijahan.

Larva ikan sidat yang baru menetas akan berenang secara pasif mengikuti arus menuju pantai memasuki perairan tawar. Ikan sidat akan menghabiskan sebagian besar fase hidupnya di air tawar dan akan kembali ke laut untuk memijah.

Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan menyebutkan kandungan gizi ikan sidat Pangandaran (Anguilla marmorata, Anguilla bicolor) merupakan yang terbaik di Indonesia. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa di Pangandaran potensi pengembangan budidaya sidat sangat baik. Hal ini juga merupakan upaya untuk menghindari kepunahan, untuk mengimbangi dampak penangkapan sidat di alam yang terus menerus.

Kita tidak bisa menghalangi para pemancing untuk menangkapnya, karena merekapun akan mendapatkan penghasilan yang lebih dari hasil tangkapan sidatnya tersebut dengan harga jual yang tinggi. Tapi kita bisa memberikan pengertian kepada mereka untuk tidak menangkap sidat yang berukuran besar yang sedang dalam perjalanan menuju tempat memijahnya, atau menangkap benih sidat, yang dikenal dengan glass eel secara berlebihan sebagai upaya untuk mempertahankan populasinya di alam.

Penulis:

Yuniar Mulyani

Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Sumber:
Fahmi, M.R. 2015. Konservasi Genetik Ikan Sidat Tropis (Anguilla spp) di Perairan Indonesia. J. Lit. Perikan. Ind. Vol.21 No.1

https://www.harapanrakyat.com/2018/05/peneliti-jepang-sebut-sidat-pangandaran-terbaik-di-indonesia/

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5525947/cerita-susi-pudjiastuti-soal-ikan-sidat-yang-nyaris-punah

Addinilia, D. 2012. Analisis Karakter Genetik Berdasarkan Gen Cytochrome b pada Sidat (Anguilla bicolor dan A. marmorata). Program Studi Perikanan, FPIK Unpad. Sumedang.

Exit mobile version