BERITA  

Duh, Satu Pasien Positif Corona Meninggal di RSUD Pandega Pangandaran

SEPUTARPANGANDARAN.COM – Seorang pasien positif Corona meninggal di RSUD Pandega Pangandaran, Sabtu (15/8/2020) dini hari.

Pasien ternyata warga Grobogan, Jawa Tengah, pengelola sarang burung walet di Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

“Ya, ada seorang pasien COVID-19 meninggal dunia di RSUD Pandega Pangandaran tadi. Pasien memiliki penyakit penyerta diabetes melitus. Tapi karena warga luar Pangandaran, datanya tidak kami catat sebagai kasus COVID-19 Pangandaran. Jenazah akan dibawa ke Grobogan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran Yani Ahmad Marzuki.

Selain itu, kasus kematian pasien pria berinisial RUJ (52) itu dinyatakan sebagai klaster penularan. Karena dari hasil penelusuran kontak, diketahui istri dan seorang temannya positif Corona.

Istrinya memilih menjalani isolasi di kampung halamannya, Yogyakarta. Sedangkan seorang temannya yang memilih isolasi mandiri di Banjarnegara.

Kronologis kasus tersebut berawal dari kondisi sakit yang dialami oleh RUJ. Dia sempat berobat ke klinik Suntoro Kecamatan Banjarsari Ciamis. Kemudian karena demam tinggi dan sesak, RUJ dirujuk ke RSU Pandega Pangandaran.

Baca juga:  Suplai Air PDAM di Wilayah Parigi Mengalami Gangguan

“Karena ada gejala sesak nafas, tim medis langsung melakukan tes swab. Ternyata hasilnya positif, langsung kami lakukan penanganan khusus. Namun pasien meninggal dunia,” tutur Yani.

Selain itu tim medis juga melakukan tes swab terhadap istri dan temannya. Ternyata sama-sama positif COVID-19.

“Hari ini kami lakukan juga penelusuran kontak di lokasi sarang burung walet itu. Ada 12 orang target pemeriksaan, terdiri dari pegawai dan warga sekitar yang sempat kontak dengan pasien positif,” ujar Yani.

Namun dia menyayangkan dari 12 orang itu hanya 2 orang yang merupakan pegawai sarang burung walet itu, mayoritas pegawai sudah pulang ke kampung halamannya.

“Tapi kami sudah koordinasi dengan Dinkes di daerah-daerah yang menjadi domisili orang-orang tersebut. Mudah-mudahan bisa segera ditindaklanjuti di daerah masing-masing,” katanya.

Yani mengaku belum bisa memutuskan apakah munculnya klaster sarang burung walet ini akan disikapi dengan pembatasan sosial berskala mikro atau tidak. “Kami fokus dulu lakukan penelusuran kontak. Mudah-mudahan nanti malam hasilnya muncul,” kata Yani.***