Dosen Komunikasi Politik UNY: Gimik Politik Tak Lebih untuk Political Branding

Dosen Komunikasi Politik UNY: Gimik Politik Tak Lebih untuk Political Branding

SEPUTARPANGANDARAN.COM, JakartaFikri Disyacitta, Dosen Pengetahuan Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebut penyelenggaraan gimik pada kampanye kebijakan pemerintah merupakan hal yang digunakan lumrah atau sah. Lebih lanjut, Fikri menyebutkan alasan penyelenggaraan gimik pada kampanye kebijakan pemerintah yang digunakan semakin luas digunakan yang disebutkan merupakan upaya mendirikan political branding.

“Sah-sah hanya (penggunaan gimik di kampanye politik), hal yang disebutkan kan dapat dilihat sebagai upaya mendirikan political branding,” ujar Fikri ketika dihubungi Tempo.co melalui chat WhatsApp pada Sabtu, 2 Desember 2023.

Lebih lanjut, selain lantaran merupakan upaya untuk mendirikan political branding, penggunaan gimik di kampanye kebijakan pemerintah menjadi hal yang dimaksud wajar juga lumrah lantaran terdapat perpindahan dari media konvensional ke budaya media sosial. Menurut Fikri, awalnya budaya media konvensional menuntut untuk membaca keseluruhan, lalu bergeser ke budaya media sosial yang digunakan menyampaikan informasi secara ringkas lalu penuh ilustrasi.

“Awalnya kan media konvensional seperti koran menuntut kita untuk membaca keseluruhan isi agar paham dengan konteks yang dimaksud disampaikan. Namun dengan perpindahan ke budaya media sosial, semuanya menjadi serba ringkas kemudian penuh ilustrasi, hal yang disebutkan yang mana memproduksi gimik pada kampanye politik, semakin luas digunakan,” ujar Fikri.

Baca juga:  Tim Pemenangan Ganjar Bakal Beri Arahan Tertutup di Rakernas PDIP

Selain itu, pada budaya media sosial, menurut Fikri, audiens lebih lanjut familiar dengan pemanfaatan istilah seperti “gemoy”, “slepet sarung”, hingga penyelenggaraan gesture dari adegan film layar lebar tambahan mudah diingat daripada pemaparan inisiatif masing-masing pasangan calon.

Dikritik Banyak Pihak

Sebelumnya, gimik gemoy yang tersebut digunakan oleh regu Prabowo Subianto pada kampanye urusan politik mendapatkan kritik dari Juru Bicara Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar, Surya Tjandra. Lebih lanjut, menurut Surya, kampanye gimik semacam itu sangat berbahaya lantaran bersifat manipulatif kemudian menjauhkan audiens dari kondisi riil.

Selain itu, kritik juga disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera atau PKS, yakni Sohibul Iman yang mana mengumumkan bahwa cap gemas asoy atau gemoy lalu santuy dinilai tiada sehat. Hal yang dimaksud turut dibenarkan oleh Jazilul Fawaid selaku Asisten Pelatih Timnas Anies-Cak Imin atau AMIN yang tersebut turut menegaskan pernyataan dari Sohibul Iman tentang pemanfaatan gimik gemoy juga santuy untuk meraup ucapan pada pemilihan raya 2024.

Baca juga:  Jokowi Berjumpa Surya Paloh di area Istana Negara Hari Minggu Petang

“Ya itu yang dimaksud faktanya, bukanlah nyindir. Fakta cuma ngasih tahu aja,” terang Jazilul, pada KPU, Jakarta, Senin, 27 November 2023. 

Lebih lanjut, seperti dilansir dari Koran Tempo edisi 28 November 2023 lalu, Wijayanto selaku Direktur Pusat Studi Industri Media lalu Demokrasi Lembaga Penelitian, Pendidikan, kemudian Penerangan Sektor Bisnis serta Sosial atau LP3ES menjelaskan bahwa kontestasi pemilihan presiden edisi kali ini minim substansi. Hal yang dimaksud dapat dilihat dari visi kemudian misi yang digunakan disampaikan oleh masing-masing pasangan calon.

Sementara itu, menurut Wijayanto, di kampanye tertutup yang dijalankan di area media sosial atau ruang digital, Wijayanto mengumumkan bahwa ketiga pasangan telah dilakukan menggunakan dan juga mereplikasi gimik tertentu dengan kadar yang tersebut berbeda. Lebih lanjut, kadar gimik tertinggi berada di area Prabowo yang tersebut menggunakan tarian gemoy untuk menggambarkan bahwa dirinya merupakan sosok yang menggemaskan.

Sumber: tempo