Digitalisasi Madrasah: MAN 2 Pangandaran Luncurkan Aplikasi Presensi “SIAP Hadir”
PANGANDARAN – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pangandaran resmi mengadopsi sistem presensi digital guna mempercepat transformasi teknologi di lingkungan pendidikan. Langkah ini ditandai dengan penggunaan aplikasi SIAP Hadir (Sistem Integrasi Absensi dan Pengawasan – Hadir, Aktif, Disiplin, dan Responsif) untuk memantau kehadiran siswa secara lebih akurat.
Inovasi ini lahir dari tangan pendidik lokal, Agus Ali Mutakin, seorang guru TIK di madrasah tersebut. Aplikasi ini dirancang untuk meminimalisasi kecurangan absensi konvensional sekaligus meningkatkan standar kedisiplinan peserta didik.
Mekanisme Barcode dan Pemantauan Real-Time
Berbeda dengan absensi manual, SIAP Hadir mengandalkan pemindaian kode batang (barcode) yang tersimpan di ponsel masing-masing siswa. Petugas atau sistem hanya perlu memindai kode tersebut untuk mencatat kehadiran secara otomatis ke dalam basis data terintegrasi.
Kepala MAN 2 Pangandaran, Dadah Jubaedah, menyebut langkah ini sebagai strategi untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan. “Melalui SIAP Hadir, madrasah dapat mengelola data kehadiran siswa secara lebih tertib dan transparan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sistem ini secara tidak langsung menanamkan nilai tanggung jawab dan sikap responsif kepada siswa.
Efisiensi dan Respons Siswa
Dari sisi teknis, Agus Ali Mutakin menjelaskan bahwa rancangan aplikasi ini mengutamakan kemudahan penggunaan (user-friendly). Efisiensi waktu menjadi keunggulan utama sehingga proses absensi tidak lagi memakan waktu lama di awal jam pelajaran.
Respons positif juga datang dari kalangan siswa. Ana Salsabila, salah satu siswi MAN 2 Pangandaran, mengaku sistem ini membuatnya lebih disiplin. “Proses absensi jadi lebih cepat karena cukup menampilkan barcode di HP,” kata Ana.
Analisis: Lebih dari Sekadar Absensi Elektronik
Kehadiran SIAP Hadir di MAN 2 Pangandaran merupakan sinyal positif bahwa inovasi teknologi kini tidak lagi menjadi monopoli sekolah-sekolah di kota besar. Langkah yang diinisiasi oleh tenaga pendidik lokal ini membuktikan bahwa adaptasi digital di lingkungan madrasah dapat dilakukan secara mandiri dan tepat sasaran.
Urgensi dari transformasi ini sebenarnya bukan terletak pada kecanggihan perangkatnya, melainkan pada perubahan budaya kerja. Dengan sistem real-time, celah untuk manipulasi data kehadiran menjadi tertutup, yang secara otomatis memaksa ekosistem pendidikan—baik siswa maupun guru—untuk lebih menghargai waktu. Di Pangandaran, tren ini seharusnya menjadi pemantik bagi institusi pendidikan lain untuk mulai mendigitalisasi aspek administratif mereka demi membangun transparansi dan akuntabilitas sejak dini.
Penerapan SIAP Hadir mempertegas posisi MAN 2 Pangandaran dalam mendukung kebijakan digitalisasi madrasah yang dicanangkan kementerian terkait. Dengan data yang dapat diakses secara real-time, pihak madrasah memiliki instrumen pengawasan dan evaluasi yang lebih kuat untuk meningkatkan tata kelola pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.


