Indeks

Cegah Anak Tumbuh dengan Sifat Kekerasan

APAPUN ITU Syaratnya, penggunaan kekerasan dilarang keras, baik untuk sekadar memberi pelajaran atau membimbing tumbuh kembang bayi. Membesarkan anak dengan kekerasan bisa berakibat fatal bagi mental anak, bahkan tidak sedikit anak yang tumbuh dengan sifat kekerasan akibat didikan orang tuanya yang keras.

Dikutip dari Diantara, Psikolog Anak Universitas Indonesia Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi memaparkan beberapa faktor yang dapat memicu dan mendorong anak tumbuh dengan sifat kekerasan.

Orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak dapat mendorong anak untuk mencari tempat lain untuk mempraktekkan apa yang mereka amati atau lihat di lingkungan rumah.

Baca juga:

Latar belakang orang tua mempengaruhi pola pengasuhan



Jangan pernah menggunakan kekerasan terhadap anak. (Hapus percikan/Katherine)

“Dan selain kekerasan dalam keluarga atau kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak, ada juga hal lain yang bisa membuatnya berubah menjadi anak yang menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan”, jelas psikolog yang akrab disapa Romi ini.

Ketika bayi merasa kehadirannya tidak dianggap, baik di rumah maupun di lingkungannya, maka anak mungkin akan mencari di tempat lain. di mana dia bisa menunjukkan kekuasaan, dominasi atau kekerasan.

Lebih lanjut Romi menambahkan, hal ini juga dipengaruhi pergaulan. Anak yang awalnya tidak melakukan kekerasan bisa tiba-tiba menjadi kasar karena bisa meniru semua yang dilakukan teman sebayanya.

“Penyebabnya banyak sekali, sehingga kita harus mulai menjaga sampai orang tua mulai menganiaya anak di rumah”, kata Romi.

Ketika seorang anak sering melakukan kekerasan, perlu dilihat apakah dia benar-benar merasa tidak nyaman di tempat lain sehingga dia membutuhkan sekelompok teman yang melakukan kekerasan tersebut.

Baca juga:

10 kesalahan pola asuh yang sering dilakukan orang tua



Banyak faktor anak tumbuh menjadi sulit. Salah satunya karena standar pola asuh yang salah. (Unsplash/Caleb Woods)

Jika anak ingin menunjukkan eksistensinya dengan melakukan kekerasan pada orang. Maka hal ini pun harus dilihat kembali apakah konsep diri anak sudah cukup baik. Misalnya, seorang anak merasa tidak berprestasi di sekolah dan merasa tidak diterima di sekolah, sehingga membutuhkan tempat lain untuk menunjukkan eksistensinya.

“Kalau dia tidak berprestasi di sekolah. Sebenarnya bisa saja dia berprestasi, misalnya di bidang olah raga, seni dan sebagainya. Tapi dia tidak melihat itu dan orang-orang disekitarnya. Terutama orang tua, jangan. Jangan tunjukkan kelebihan anak sehingga apa yang tersisa dengan citra dirinya bisa menjadi sesuatu yang terus negatif,” lanjutnya.

Jika itu terus terjadi maka harga diri atau rasa harga diri anak cenderung negatif hingga merusak kepercayaan diri. Anak benar-benar menjadi percaya diri ketika mereka dapat menunjukkan kemampuan untuk mendominasi orang lain.

“Untuk mengatasinya, kita harus membantu dengan menunjukkan kepadanya bahwa anak ini memiliki potensi lain selain menjadi seseorang yang suka berkelahi dan semacamnya”, kata Romi. (jauh)

Baca juga:

Pola asuh yang salah menyebabkan anak sering membuat ulah



Source link

Exit mobile version