PANGANDARAN – Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengunjungi keluarga Sodikin, penderas kelapa warga Dusun Bojokarekes, Desa Babakan Kecamatan/Kabupaten Pangandaran yang meninggal dunia akibat jatuh dari pohon kelapa.

Pada kesempatan tersebut Jeje Wiradinata menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Sodikin dan keluarganya tetap tabah.

Sementara itu menanggapi klaim asuransi BPJS ketenagakerjaan milik Sodikin yang dikabarkan belum bisa dicairkan, Jeje mengaku akan segera mengurusnya.

“Saya baru 5 hari dilantik dan bekerja sebagai Bupati. Nanti kita segera fokus untuk mengurus asuransi bagi penderes karena itu janji kampanye kita dan akan ditepati,” kata Jeje Jumat, (5/3/2021).

Dia bahkan meminta langsung dan membawa berkas-berkas klaim asuransi Sodikin dari pihak keluarga. “Sini berkasnya, saya yang urus,” kata Jeje kepada keluarga Sodikin.

Jeje mengaku akan segera memanggil pihak Dinas Pertanian dan pihak BPJS Ketenagakerjaan untuk mengurus klaim asuransi jiwa Sodikin. “Besok saya panggil, ini berkasnya sudah saya bawa,” kata Jeje.

Dia menegaskan pemerintah harus memperhatikan betul keberadaan para penderas kelapa ini karena sektor usaha ini menjadi penopang perekonomian masyarakat Pangandaran yang cukup strategis.

“Aktivitas ekonomi gula kelapa di Pangandaran itu mencapai miliaran rupiah setiap hari. Makanya Pemda harus hadir,” kata Jeje.

Banyaknya kecelakaan kerja yang dialami oleh para penderas nira kelapa, disikapi oleh Pemkab Pangandaran dengan menyosialisasikan dan menyebar benih kelapa hybrida.

Jenis kelapa ini tidak terlalu tinggi batangnya, sehingga bisa menekan risiko kecelakaan para penderas nira kelapa.

“Sejak tahun lalu kita canangkan penanaman kelapa hybrida. Tahun lalu sudah kita tanam 32 ribu bibit, tahun ini kita siapkan 20 ribu bibit,” katanya.

Jeje berharap penanaman kelapa hybrida itu dilakukan di antara pohon kelapa yang saat ini sudah ada. Sehingga petani penderas nira masih bisa tetap bekerja sambil menanti bibit kelapa hybrida siap dipanen.

“Kelapa hybrida katanya hanya butuh 3 tahun dari sejak ditanam sampai siap disadap niranya. Jadi ke depan, penderas bisa mengurangi risiko kecelakaan. Karena tingginya tak lebih dari 3 meter,” kata Jeje.

Ketua Asosiasi Gula Kelapa Priangan, Joe Irwan mengatakan kapasitas produksi gula kelapa di Pangandaran mencapai 150 ton/hari. Jika harga gula kelapa diasumsikan Rp 12 ribu/kilogram. Maka perputaran uangnya mencapai Rp 1,8 miliar per hari.

Kapasitas produksi itu ternyata masih belum memenuhi permintaan pasar. Karena ceruk bisnis pasar gula kelapa berada di kisaran 350 ton/hari.

“Peluangnya masih terbuka, namun trend produksi cenderung menurun. Ada beberapa persoalan yang kami hadapi. Diantaranya regenerasi perajin gula yang kurang berjalan. Usia pohon kelapa yang sudah tua serta perawatan yang kurang baik membuat produksi menurun,” kata Joe.

Joe mengaku mengapresiasi langkah Pemkab Pangandaran yang memperhatikan para pelaku usaha khususnya petani gula kelapa di Pangandaran.***