Indeks

BRIN ukur simpanan karbon pada agroforestri nyamplung

BRIN ukur simpanan karbon pada agroforestri nyamplung
Karbon yang mana tersimpan dalam biomassa di dalam atas serta di area bawah permukaan tanah pada nyamplung berbeda atau heterogen

Jakarta – Badan Riset kemudian Inovasi Nasional (BRIN) mengukur jumlah agregat simpanan karbon pada agroforestri nyamplung atau Calophyllum Inophyllum yang dimaksud dipakai sebagai substansi baku alternatif substansi bakar nabati kemudian mempunyai item turunan sebagai obat hingga kosmetik.
 

Ketua Kelompok Riset Ekonomi Sirkular dalam Simbiosis Sumber Daya Alam BRIN Tri Martini mengatakan pengukuran simpanan karbon pada agroforestri nyamplung penting untuk pajak karbon.

 

"Karbon yang dimaksud tersimpan dalam biomassa pada atas dan juga pada bawah permukaan tanah pada nyamplung berbeda atau heterogen," ujarnya dalam keterangan pada Jakarta, Rabu.

 

BRIN mengukur simpanan biomassa nyamplung melalui 20 plot yang mana masing-masing miliki ukuran 20 x 20 meter menggunakan rumus alometrik.

 

Pada pohon pertama, biomassa atas tanaman nyamplung antara 2,1 kilogram sampai 255,5 kilogram. Berat biomassa bawah antara 0,2 kilogram sampai 46,4 kilogram.

 

Apabila dihitung biomassa total nyamplung meliputi biomassa atas (AGB) kemudian biomassa bawah (BGB) adalah sebesar 1,2 kilogram sampai 301,8 kilogram. Rata-rata pada seluruh lokasi penelitian, biomassa total nyamplung dalam satu hektare adalah 36,84 ton.

 

Pusat Riset Ekologi kemudian Etnobiologi BRIN Pamungkas Buana Putra mengungkapkan simpanan karbon dalam dalam biomassa sekitar 0,47 dari berat biomassa.

 

Sedangkan simpanan karbon pada biomassa di dalam atas permukaan tanah menunjukkan kisaran sekitar 1,3 sampai 33,5 ton karbon untuk satu hektare. Adapun karbon yang tersimpan pada biomassa pada bawah permukaan tanah menunjukkan kisaran sekitar 0,2 sampai 5,2 ton untuk satu hektare.

 

Total biomassa di area atas kemudian bawah menunjukkan nilai simpanan karbon dalam satu hektare sebesar 1,5 hingga 38,7 ton.

 

Pamungkas menjelaskan nyamplung dengan biomassa sebesar 10,46 ton mempunyai simpanan karbon sebesar 5,23 ton dengan serapan karbon dioksida sebesar 19,19 ton.

 

Simpanan karbon nyamplung pada biomassa dalam atas permukaan tanah pada umumnya tambahan besar yaitu sebanyak 87,3 persen dibandingkan biomassa di area bawah permukaan tanah.

 

Hasil itu sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya serta teori yang tersebut ada akibat biomassa di area atas permukaan tanah mencakup berbagai unsur, termasuk batang, cabang, daun, buah-buahan, lalu semuanya miliki kandungan karbon yang besar. Sedangkan, biomassa di area bawah permukaan tanah meliputi akar juga berbagai struktur bawah tanah.
 
Perbedaan simpanan karbon pada nyamplung pada dalam plot-plot disebabkan oleh keragaman kondisi pertumbuhan pepohonan akibat perbedaan pengelolaan lahan yang dijalani masing-masing petani.

 

Di lain sisi, besaran simpanan karbon dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari iklim, topografi, karakteristik lahan, umur juga kerapatan vegetasi, komposisi jenis, serta kualitas tempat tumbuh.

 

"Pohon-pohon yang dimaksud mempunyai total biomassa yang digunakan lebih lanjut besar baik di dalam atas maupun di tempat bawah permukaan tanah memberikan kontribusi yang dimaksud lebih lanjut besar terhadap peluang habitat dalam menyerap karbon," kata Pamungkas.

 

Kegiatan pengukuran simpanan karbon pada agroforestri nyamplung dikerjakan dalam kawasan Kapanewon Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

 

Sejak Juni 2023 BRIN berkolaborasi dengan PT Pandu Wijaya Negara – yang tersebut bergerak dalam bidang usaha perdagangan minyak nyamplung – melakukan penelitian tentang simpanan karbon tersebut.

Sumber: Antara news

Exit mobile version