BPOM Harus Investigasi Kasus Baru Gagal Ginjal Akut pada Anak

MerahPutih.com – Maraknya kasus gagal ginjal akut (GGA) yang menimpa dua anak di DKI Jakarta membuat Rahmad Handoyo, anggota Komisi IX DPR RI geram. Selain itu, satu dari dua anak tersebut dinyatakan meninggal pada Rabu (1/2) pekan lalu.

Politisi dari PDI Perjuangan (PDIP) ini bahkan menilai pengulangan kasus ISPA merupakan hal yang tidak masuk akal mengingat sebelumnya telah dilakukan langkah-langkah luar biasa untuk mencegah dan menghentikan penyakit yang telah merenggut nyawa sekitar 200 anak itu.

“Kasus ini sangat tidak masuk akal. Mengapa? Karena beberapa waktu lalu pemerintah menghentikan peredaran semua sirup yang diduga penyebab ISPA,” kata Handoyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (02/07).

Baca juga:

DPRD DKI Minta Dinas Kesehatan Tingkatkan Pemeriksaan Sirup Pemicu Ginjal Akut

BPOM, kata Handoyo, juga telah membebaskan perusahaan yang dilarang mengedarkan produknya, termasuk mengeluarkan obat berlisensi.

“Bahkan tersangkanya sudah ada. Lalu kenapa kasus GGA ini muncul lagi?” Dia melanjutkan.

Menanggapi pertanyaannya sendiri, Handoyo membuat dua asumsi mengapa kasus GGA muncul kembali. Pertama, kemungkinan kasus baru yang terjadi di Jakarta disebabkan oleh obat lama yang sebenarnya sudah dicabut izin edarnya namun masih beredar di masyarakat.

Baca juga:  Warna baru Rolls-Royce Spectre EV muncul di Auto Shanghai 2023

“Bila muncul kasus baru akibat obat yang seharusnya ditarik dari peredaran, masih masuk akal karena pemusnahan obat yang diduga penyebab gagal ginjal akut pada anak belum tuntas. Artinya tidak semuanya hilang dari peredaran,” ujarnya.

Handoyo mengatakan munculnya kasus baru ini tidak masuk akal, mengingat semua alat negara sudah memutuskan obat mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan. Ada juga petunjuk untuk berhenti menggunakan obat cair.

“Nah, yang saya khawatirkan sebenarnya obat yang sudah dinyatakan aman malah menimbulkan kasus baru. Kalau yang dinyatakan aman ternyata tidak aman, wah mengkhawatirkan sekali,” ungkapnya.

Baca juga:

DPR Menuntut Keseriusan Pemerintah dalam Penanganan Kasus Gagal Ginjal Akut

Handoyo mengatakan terkait munculnya kasus ARF baru ini, kita harus menunggu hasil investigasi BPOM. Namun jika BPOM mengklaim obat tertentu aman, kebetulan muncul kasus baru, sehingga siapa yang percaya bahwa yang disebut BPOM itu aman.

“Jangan sampai obat yang dinyatakan aman mengandung zat berbahaya,” imbuhnya.

Baca juga:  Menangi F1 GP Belgia 2023 dari Posisi 6, Max Verstappen Percaya Betul pada RB19 : Okezone Sports

Pasca kasus ISPA baru ini, Handoyo mempertanyakan apakah obat-obatan yang dinyatakan aman itu sudah diperiksa satu per satu. Jadi, apakah tes pengambilan sampel dilakukan?

“Semua obat sirup cair diuji di laboratorium manufaktur yang mengandung pelarut kimia untuk obat etilen glikol dan dietilen glikol (EG/DEG),” ujarnya.

“Dengan kata lain, saya ingin mengatakan bahwa kita tidak dapat menyerahkan sepenuhnya kepada produsen untuk melakukan pengujian di laboratorium mereka sendiri. Fungsi pengawasan harus diperkuat. Jangan sampai bocor,” lanjutnya.

Masih terkait munculnya kasus baru ISPA, Handoyo meminta BPOM mengusut secara mendalam. Dia juga meminta polisi untuk mengambil tindakan hukum yang diperlukan.

“Menangani kasus ini penting karena menyangkut masa depan anak-anak kita,” katanya.

Handoyo mengingatkan, kasus baru ini harus diwaspadai. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh orang tua untuk segera membawa anaknya ke dokter ketika muncul tanda-tanda demam atau apapun yang membutuhkan pertolongan medis.

“Sebaiknya jika anak sakit segera ke dokter untuk mendapatkan resep yang aman, walaupun sebenarnya jika melihat kasus baru ISPA ini, obat yang diresepkan belum sepenuhnya aman”, pungkasnya.

Baca juga:  Gagal Juara Wimbledon 2023, Novak Djokovic Ngamuk Banting Raket

Diketahui, satu dari dua anak penderita gagal ginjal akut dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (1/2) pekan lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua anak yang tinggal di DKI Jakarta mengalami kejadian tersebut. Satu pasien yang meninggal dunia berdomisili di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Kasus GGA sebelumnya sempat heboh karena banyak anak yang menjadi korban. Hingga November 2022, terdapat 324 kasus gagal ginjal akut di Indonesia akibat kontaminasi senyawa EG/DEG pada obat sirup. Sebanyak 200 pasien meninggal dunia dan 111 lainnya sembuh. Namun, belum ada kasus baru sejak awal Desember tahun lalu. (Lb)

Baca juga:

Pj Gubernur DKI memberikan perhatian khusus pada kasus gagal ginjal akut di Jakarta