PANGANDARAN — Di balik gemerlap Pantai Pangandaran yang acap dipuja sebagai surga wisata bahari, sebuah pemandangan kontras tersaji. Bukan pasir putih yang bersih atau biru jernih air laut, melainkan aliran keruh yang menyusup ke bibir pantai timur. Limbah.

https://vt.tiktok.com/ZSm1hpCGa/

​Sebuah rekaman video yang beredar menampilkan dengan gamblang: dari sela-sela rerumputan liar yang tumbuh subur di tepi jalan, mengalir deras air hitam pekat. Sampah-sampah plastik mengapung, tersangkut pada bebatuan yang menghitam oleh endapan. Aliran itu tak lain adalah pembuangan yang bermuara langsung ke laut, persis di area yang seharusnya menjadi daya tarik utama wisatawan.

​Aroma Busuk di Antara Debur Ombak

​Pemandangan ini bukan hanya soal estetika yang rusak. Aroma tak sedap yang terbawa angin seolah menjadi pengingat pahit tentang minimnya perhatian terhadap sanitasi dan pengelolaan limbah di kawasan tersebut. Bagaimana mungkin, sebuah destinasi yang mengandalkan keindahan alamnya, justru membiarkan nadinya—yakni laut—tercemar oleh kotoran dari daratan?

​Warga dan wisatawan yang melintas tak bisa mengelak dari pemandangan ironis ini. Di satu sisi, bangunan-bangunan penginapan dan restoran berjejer rapi di sepanjang jalan, menjanjikan kenyamanan. Namun di sisi lain, infrastruktur pengelolaan limbah mereka seolah luput dari perhatian, atau bahkan diabaikan.

​Ancaman Nyata di Balik Keramaian

​Aliran limbah yang dibuang langsung ke laut ini bukan hanya mencoreng citra pariwisata Pangandaran, melainkan juga mengancam ekosistem laut. Mikroorganisme dan biota laut yang hidup di area pesisir terancam oleh paparan zat-zat kimia dan sampah organik yang terlarut. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak keanekaragaman hayati dan pada akhirnya, menurunkan kualitas air laut itu sendiri.

​Bagi sebuah daerah yang hidup dari pariwisata, pemandangan limbah ini adalah alarm bahaya. Jika tak segera diatasi, Pantai Timur Pangandaran terancam kehilangan pesonanya, digantikan oleh citra sebagai “pantai yang tercemar.” Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas borok yang mencemari eloknya pesisir ini, dan kapan pemerintah daerah akan mengambil tindakan serius untuk menghentikan “arus kotor” yang terus membanjiri laut Pangandaran?