Bapenda Jabar Luncurkan ‘Panah Pasopati’, Buru Penunggak Pajak dengan Cara Santun
PANGANDARAN – Dalam dunia pewayangan, Pasopati adalah senjata andalan Arjuna yang dikenal memiliki ketepatan bidikan mematikan. Namun di tangan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Barat, “Panah Pasopati” tak digunakan untuk melukai, melainkan untuk menyadarkan.
Rabu pagi itu, Bapenda resmi meluncurkan aplikasi digital bernama Panah Pasopati. Ini adalah inovasi teranyar untuk menelusuri jejak kendaraan bermotor yang menunggak pajak (KTMDU). Peluncuran ini diikuti serentak, baik langsung maupun virtual, oleh seluruh Pusat Pengelolaan Pendapatan Daerah (P3D) se-Jawa Barat, termasuk di Pangandaran.
Sekretaris Badan (Sekban) Bapenda Pangandaran, Asep Rusli, menegaskan bahwa aplikasi ini membawa semangat baru. Jika selama ini penagihan pajak kerap diasosiasikan dengan tindakan koersif, Panah Pasopati justru mengedepankan sisi humanis.
“Mulai hari ini, kita melakukan penelusuran secara on the spot langsung melalui aplikasi. Kami bukan dalam rangka memaksa masyarakat membayar pajak, melainkan mengingatkan dan mengajak dengan cara yang sopan, akurat, dan simpatik,” ujar Asep Rusli di sela peluncuran.
Jurus Persuasif demi Infrastruktur
Secara teori, pajak memang memiliki unsur memaksa. Namun, Bapenda Jabar memilih jalan memutar yang lebih lunak: persuasi. Asep menjelaskan, langkah ini diambil untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan ketakutan.
Para petugas di lapangan kini dibekali surat pemberitahuan resmi. Dengan bantuan aplikasi, mereka dapat memantau, mengonfirmasi, dan menindaklanjuti data tunggakan secara real-time di lapangan. Pesan yang dibawa pun jelas: pajak yang dibayar akan kembali ke rakyat.
Asep menegaskan kembali komitmen Gubernur Jawa Barat bahwa setiap rupiah dari pajak kendaraan bermotor akan dikonversi menjadi pembangunan sarana publik, khususnya perbaikan infrastruktur jalan yang kerap dikeluhkan warga.
Pejabat Ikut ‘Turun Gunung’
Yang menarik dari program Panah Pasopati ini adalah pembagian beban kerjanya. Beban target tidak hanya dipikul oleh petugas lapangan biasa. Para pejabat teras Bapenda pun kini harus ikut “turun gunung”.
“Target bukan hanya dibebankan kepada petugas di bawah. Kami di level pimpinan juga memiliki target dan tanggung jawab yang sama,” tegas Asep.
Nama Panah Pasopati sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Filosofi senjata Arjuna itu melambangkan fokus, kekuatan, dan akurasi. Melalui aplikasi ini, Bapenda Jabar berharap bidikan mereka tepat sasaran: meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan mengoptimalkan pendapatan daerah, tanpa harus kehilangan simpati publik.


