Apes Remaja Bandung di Pesisir Pangandaran: Gunting, Grab, dan Amuk Massa
PANGANDARAN, SPC – Sabtu siang itu, 4 April 2026, terik matahari di Dusun Parapat Barat tak hanya membakar aspal, tapi juga menyulut amarah warga. Di depan sebuah toko modern yang riuh, seorang remaja berinisial ASF (17) berdiri mematung. Di tangannya bukan kunci duplikat, melainkan sebilah gunting. Di depannya, sebuah Honda Vario incarannya gagal berpindah tangan.
Remaja asal Banjaran, Bandung itu tak menyangka perjalanannya menembus 211 kilometer berakhir di bawah kepungan massa yang beringas.
Intaian di Balik Helm
Ketegangan bermula sekitar pukul 11.22 WIB. Warkian, kakak dari pemilik motor, sudah lama mencium aroma tak beres. Dari kejauhan, ia mengamati gerak-gerik ASF yang tampak gelisah, bolak-balik di area parkir layaknya orang yang kehilangan arah.
Kecurigaan Warkian memuncak saat melihat tangan ASF mulai bergerilya memindahkan helm dan mencoba menguasai kemudi motor. “Saat saya interogasi, bicaranya ngawur. Katanya mau ambil motor teman,” kenang Warkian dengan nada getir saat ditemui di Mapolsek Pangandaran.
Warkian bergerak cepat menghubungi polisi. Namun, kabar “ada maling” menyebar lebih cepat dari sirine petugas. Dalam hitungan menit, kerumunan warga mengepung. Di tengah kemacetan Pangandaran yang mengular, massa yang telanjur emosi kehilangan kesabaran. Beberapa pukulan mentah sempat mendarat di wajah ASF sebelum polisi berhasil menerobos barikade massa dan menyeretnya masuk ke mobil patroli.
Melintasi 211 Kilometer demi Perintah
Di ruang interogasi yang dingin, tabir pelarian ASF mulai tersingkap. Pengakuannya terdengar janggal sekaligus tragis. Remaja di bawah umur ini mengaku nekat menempuh perjalanan panjang dari Bandung menuju pesisir Pangandaran—jarak sejauh 211 kilometer—menggunakan layanan transportasi daring (Grab) hanya untuk menjemput motor curian.
Ia berdalih hanya menjadi “kaki tangan” dari dua nama yang kini diburu polisi: OLH dan FJR.
”Saya disuruh teman ambil motor itu pakai gunting,” lirih ASF di hadapan penyidik.
Kondisi Labil
Meski ASF telah diamankan, penyidikan tak berjalan mulus. Polisi menduga kondisi mental remaja ini tidak stabil. Jawabannya kerap melantur, menyiratkan adanya tekanan atau kondisi psikologis yang terguncang.
”Kami masih melakukan pemeriksaan intensif. Terduga pelaku tampak tidak sepenuhnya stabil saat dimintai keterangan,” ujar salah satu petugas.
Kini, ASF harus meringkuk di sel tahanan, jauh dari rumahnya di Bandung. Sementara itu, polisi terus memburu dua sosok misterius yang tega mengirim remaja labil ini melintasi ratusan kilometer menuju “mulut harimau” di Pangandaran, hanya dengan modal sebilah gunting dan sebuah aplikasi ponsel.




