SEPUTARPANGANDARAN.COM, JAKARTA – Analis Sosial Politik Karyono Wibowo meninjau lonjakan pendapat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sangat tiada lazim meskipun belum menembus bilangan bulat empat persen. Namun pola kenaikan pendapat itu tidak ada lazim jikalau mengawasi data yang telah dilakukan masuk ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebanyak 65 persen.
“Tetapi, apabila meninjau pola loncatnya bukan lazim oleh sebab itu data masuk ke data realcount KPU sudah ada mencapai 65, 80 persen,” ungkapnya pada keterangannya, Hari Minggu (3/3/2024).
Ia pun menilai wajar apabila sejumlah pihak yang digunakan mempertanyakan lonjakan pendapat PSI meskipun hal itu sanggup dijelaskan bahwa hal itu terjadi sebab ada kumulatif masuknya pengumuman dari tempat pemungutan pengumuman (TPS) yang dimaksud menjadi basis pendukung PSI ke di tabulasi Sistem Pengetahuan Rekapitulasi (Sirekap).
Sebagai informasi, hingga Akhir Pekan (3/3/2024) pukul 20.00 WIB, berdasarkan hasil hitung KPU melalui laman pemilu2024.kpu.go.id, PSI memperoleh pernyataan sebanyak 3,13 persen. PSI dipilih sebanyak 2.403.483 orang.
Karyono menilai KPU dan juga lembaga Survei wajib diaudit apabila perolehan kata-kata PSI lolos ambang batas parlemen. Menurutnya, hal itu diperlukan untuk menjamin kredibilitas lembaga.
Karyono mengatakan apabila PSI mendapatkan ucapan di area berhadapan dengan empat persen maka patut diduga ada yang dimaksud tidak ada beres dari perbedaan data baik itu dari lembaga survei atau KPU.
“Jika nanti benar terjadi ucapan PSI mencapai ambang batas 4 persen maka dapat menyebabkan kekacauan lalu rakyat bukan percaya untuk lembaga survei serta KPU,” ujar Karyono.
Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute itu mengatakan hasil hitung cepat selalu presisi dengan hasil hitung KPU. Artinya, selisih antara kedua hasil itu sangat tipis dengan bilangan maksimal satu persen.
“Perolehan pengumuman PSI versi quick count paling tinggi 2,8, katakanlah naik 1 persen itu baru 3,8 persen jadi tidaklah sampai 4 persen,” pungkasnya.
Sumber Sindonews





