Meredam “Si Pembunuh Senyap”: Tips RSUD Pandega Pangandaran Menangkal Hipertensi
PANGANDARAN — Hipertensi masih menjadi ancaman serius dalam senyap. Penyakit yang ditandai dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHg ini kerap tak bergejala hingga menyentuh level kritis 180/120 mmHg. Dokter Umum RSUD Pandega Pangandaran, dr. Fikri Dian Dinu Azizah, mengingatkan bahwa kunci utama menghadapi “si pembunuh senyap” ini adalah pemahaman atas risiko yang bisa diintervensi.
Menurut dr. Dian, hipertensi secara garis besar terbagi menjadi dua: primer dan sekunder. Hipertensi primer berkembang perlahan tanpa penyebab tunggal yang spesifik, sementara hipertensi sekunder biasanya dipicu oleh kondisi medis lain, seperti gangguan fungsi ginjal.
”Ada faktor risiko yang tidak bisa kita ubah, seperti genetik atau penuaan,” ujar dr. Dian. Seiring bertambahnya usia, terutama memasuki kepala enam, fisik mengalami degradasi fungsi, termasuk keseimbangan garam dan cairan alami tubuh yang terganggu. Namun, ia menekankan bahwa pemicu paling jamak justru datang dari aspek yang sebenarnya bisa dikendalikan: pola hidup.
Ancaman di Balik Gaya Hidup
Pilihan gaya hidup modern menjadi kontributor utama lonjakan kasus tekanan darah tinggi. Kebiasaan merokok, konsumsi garam dan gula yang ugal-ugalan, hingga minimnya aktivitas fisik, menjadi jalur cepat menuju hipertensi. “Pola hidup yang tidak sehat adalah penyebab yang paling sering kami temukan,” katanya.
Bagi mereka yang sudah terdiagnosis, dr. Dian menyebut pengobatan akan disesuaikan dengan profil usia dan tingkat keparahan pasien. Strateginya ganda: intervensi farmakologi (obat-obatan) dan modifikasi perilaku.
Langkah Mitigasi
RSUD Pandega Pangandaran merangkum beberapa langkah krusial untuk mengontrol tensi:
- Diet Ketat: Memangkas asupan garam dan alkohol, serta menjaga keseimbangan gizi.
- Aktivitas Fisik: Rutin berolahraga dan menjaga berat badan ideal.
- Manajemen Psikologis: Mengelola stres dan berhenti merokok.
dr. Dian menegaskan, meski obat-obatan kini mudah diakses, pencegahan tetap menjadi kasta tertinggi dalam kesehatan. “Jika sudah terlanjur kena, segera konsultasi agar tekanan darah bisa dikontrol. Jangan menunggu komplikasi,” pungkasnya.
