Ada sebuah peringatan tua dalam Uga Kacijulangan yang hari ini terasa seperti alarm yang berdering nyaring: “Lamun Cijulang geus dikepung ku kaca, poma ulah poho ka purwadaksi.” Saat ini, ramalan itu bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur. Lihatlah di sekeliling kita; hotel-hotel berbintang dengan dinding kaca mulai menjulang, kafe-kafe estetik berdiri di sepanjang aliran sungai, dan deru motor besar kerap memecah kesunyian jembatan tua.

​Cijulang sedang bersolek. Ia sedang terbang tinggi seperti burung Julang. Namun pertanyaannya: Apakah kita terbang untuk mencari makan, atau terbang karena tercerabut dari sarang?

Modernitas yang Kehilangan “Ci”

​Dalam Kitab Kacijulangan, identitas kita adalah Ci (Air). Sifat air adalah jernih, mengalir ke bawah, dan menghidupi. Namun, modernisasi yang kita lihat hari ini seringkali bersifat “padat” dan “keras”. Atas nama pembangunan, terkadang kita lupa menjaga kejernihan “mata air” karakter kita.

​Keramahan khas Soméah yang dulu menjadi bumbu utama setiap perjumpaan di Cijulang, kini perlahan berganti menjadi transaksi formal yang kaku. Senyum tulus kini dihargai dengan tarif, dan penghormatan kepada tamu terkadang hanya diukur dari seberapa tebal dompet yang mereka bawa. Kita sedang kehilangan kejernihan air, dan mulai menjadi sekadar etalase kaca yang berkilau namun dingin.

Kemandirian Sang Julang yang Terancam

​Filosofi Burung Julang mengajarkan kita untuk tidak memakan buah yang jatuh ke tanah—sebuah simbol kemandirian dan harga diri (self-respect). Leluhur kita mendirikan Cijulang dengan semangat ngadek di kaki sorangan.

​Namun, fenomena hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Banyak dari kita yang justru merasa asing di tanah sendiri. Kita hanya menjadi penonton di pinggir aliran sungai, sementara “buah-buah” terbaik dari potensi alam kita dipetik oleh tangan-tangan asing yang hanya peduli pada angka investasi, bukan pada nilai filosofi. Jika kita terus begini, kita bukan sedang menjadi “Julang” yang berdaulat, melainkan hanya menjadi pemandu sorak di rumah sendiri.

Kembali ke Purwa Daksi

​Modernisasi adalah keniscayaan. Kita tidak bisa dan tidak boleh menolak kemajuan. Namun, Kacijulangan memberikan kita pisau analisis yang disebut Purwa Daksi. Kita harus tahu asal (Purwa) agar tidak tersesat saat menuju tujuan (Daksi).

​Membangun Cijulang tidak boleh sekadar membangun fisik. Apa gunanya jembatan beton yang megah jika ia memutus “jembatan batin” antar warga? Apa gunanya gedung kaca yang tinggi jika ia justru menghalangi pandangan kita untuk melihat penderitaan tetangga di sebelahnya?

​Cijulang yang modern seharusnya adalah wilayah yang mampu mengawinkan teknologi dengan tradisi. Di mana akses internet cepat digunakan untuk memasarkan narasi budaya, bukan untuk memamerkan gaya hidup konsumtif. Di mana pembangunan tetap menyisakan ruang bagi sungai untuk bernapas dan bagi pepohonan untuk tetap berdiri tegak sebagai saksi sejarah.

Penutup

​Menjadi jurnalis selama puluhan tahun di tanah ini membuat saya sadar: Kemajuan tanpa akar adalah kehancuran yang tertunda. Kitab Kacijulangan bukan naskah mati; ia adalah kompas.

​Sebelum Cijulang benar-benar terkepung oleh dinding-dinding kaca yang memisahkan kita dari bumi, mari kita tengok kembali “Purwa Daksi” kita. Jangan sampai kita terbang terlalu tinggi seperti Julang, namun lupa cara mendarat kembali di sarang yang suci. Sebab pada akhirnya, air sungai akan selalu kembali ke muara, dan manusia akan selalu kembali pada nilai-nilainya.