JAKARTA – Kantor Sekretaris Kabinet di Kompleks Istana Kepresidenan kedatangan tamu istimewa pada Minggu, 1 Februari 2026. Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus tokoh asli Pangandaran yang dikenal dengan gaya nyentriknya, muncul dengan setelan kuning yang cerah. Di ambang pintu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sudah bersiap menyambut hangat.

​Pertemuan itu jauh dari kesan kaku birokrasi. Susi datang tidak dengan tangan hampa; ia menenteng cokelat. Sebuah gestur personal dari perempuan yang tumbuh besar di pesisir Selatan Jawa Barat ini, yang seketika mencairkan suasana kantor yang biasanya penuh dengan ketegangan administrasi negara.

​“Ada yang kenal ibu ini?” seloroh Teddy saat membawa Susi masuk ke ruang kerja para pegawai Seskab. Jawaban kompak segera menggema dari meja-meja kerja: “Bu Susi!”

​Di sana, sebuah drama kecil bin jenaka pecah. Susi berniat membagikan cokelat bawaannya kepada para staf, namun Teddy dengan nada bercanda segera “mengklaim” buah tangan tersebut untuk dirinya sendiri.

“Chocolate is maybe better for them now, it’s only one. I can send them to you,” ujar Susi, mencoba membela hak para pegawai. Namun Teddy berkukuh sambil tertawa, “No, no, for me.” Susi pun hanya bisa menoleh ke arah para pegawai sambil berkelakar khas gaya bicaranya yang lepas, “Jangan salahin Ibu ya, diambil sama Bapak tuh.”

​Ketegangan protokoler kian luruh saat Teddy mengajak Susi berkeliling meninjau wajah baru kantor Seskab. Susi tampak terkesan dengan hasil renovasi ruangan tersebut. “Wow, what an office. Nice office,” puji Susi.

​Hubungan keduanya memang telah terjalin lama. Di hadapan anak buahnya, Teddy mengenang masa-masa awal ia mengenal sosok srikandi dari Pangandaran tersebut. “Saya kenal Bu Susi dari 2016-an sampai sekarang,” tuturnya. Hampir satu dekade komunikasi itu terjalin, melintasi berbagai dinamika kabinet dari masa ke masa.

​Sebelum berpamitan, Susi kembali memamerkan gaya khasnya yang egaliter. Ia membagikan dua bungkus cokelat tambahan untuk para staf—kali ini memastikan Teddy tidak “menitip” ambil. Sambil bersiap melangkah keluar, ia melempar pertanyaan “audit” dadakan yang mengundang tawa.

​“Pak Seskab galak nggak? Pada senang hidup di kantornya? Pak Seskab pelit nggak?” tanya Susi.

​Ruangan itu kembali riuh dengan jawaban “nggak” yang diteriakkan para pegawai secara serempak. Di Kantor Seskab hari itu, diplomasi ternyata tak selalu soal nota kesepahaman yang kaku; terkadang ia hanya butuh beberapa batang cokelat dan tawa lepas dari seorang Susi Pudjiastuti.