PANGANDARAN — Jarum jam menunjuk pukul 15.00 WIB, menandai berakhirnya hiruk-pikuk pelayanan di Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Polres Pangandaran, Jawa Barat.

​Bagi sebagian orang, waktu ini adalah saatnya beristirahat. Namun, tidak bagi Brigadir Polisi Dua (Bripda) Abdul Rapi.

​Sore itu, seragam dinas cokelat lengkap dengan atribut Satuan Lalu Lintas (Satlantas) segera ia tanggalkan. Sebagai gantinya, ia mengenakan kaus hitam dan celemek bertuliskan “Angkringan Cello”.

​Di sebuah ruko sederhana di Jalan Raya Parigi, Dusun Karangbenda, sosok polisi muda asal Bandung ini berganti peran. Jika pagi hari ia sibuk mengatur lalu lintas dan melayani pemohon SIM, malam harinya ia dengan luwes meracik menu angkringan.

Menepis Gengsi demi Kemandirian

​Profesi sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kerap dilekatkan dengan citra kemapanan dan wibawa. Namun, Rapi memilih jalan berbeda yang jarang ditempuh rekan sejawatnya. Ia menepis rasa malu untuk memulai usaha dari bawah.

​Di angkringan yang ia beri nama “Cello x Polisi” tersebut, Rapi tak canggung melayani pembeli. Tangannya yang biasa memegang berkas negara atau tongkat komando, kini terampil membakar sate kulit, usus, hingga menyiapkan nasi kucing.

​”Jangan pernah gengsi untuk memulai sesuatu. Karena menurut saya, gengsi itu hanya akan membawa beban bagi diri sendiri,” ujar Rapi saat ditemui di sela aktivitasnya.

​Baginya, wirausaha adalah bentuk kemandirian dan produktivitas. Ia ingin membuktikan bahwa status sebagai abdi negara bukanlah penghalang untuk tetap membumi dan mencari rezeki tambahan yang halal.

Filosofi Lima Waktu

​Menjalani peran ganda sebagai polisi aktif dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tentu bukan perkara mudah. Namun, Rapi memiliki rumus sederhana dalam manajemen waktu, yakni berpatokan pada waktu salat.

​Rutinitasnya dimulai sejak fajar. Pukul 05.45 WIB, ia sudah berdiri tegap di lapangan untuk apel pagi, jauh sebelum jam pelayanan masyarakat dimulai pukul 08.00 WIB. Ketika tugas negara usai seiring kumandang azan, ia langsung beralih fokus ke usaha kulinernya.

​”Membagi waktu dalam kehidupan itu cukup mudah, karena kita sudah dipatok oleh salat lima waktu,” ungkapnya.

​Dengan disiplin tersebut, usaha angkringan yang ia rintis dapat berjalan beriringan tanpa mengganggu tugas utamanya sebagai anggota Polri.

Memberdayakan Warga Sekitar

​Motivasi Rapi merintis usaha ini tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan finansial. Ia memegang teguh prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

​Kehadiran Angkringan Cello x Polisi di Kecamatan Parigi ini turut membawa dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar. Rapi memberdayakan dua orang warga lokal sebagai karyawan.

​Langkah ini juga menjadi solusi taktis bagi Rapi. Ketika ia harus menjalankan tugas piket pengamanan malam atau patroli, asap dapur angkringan tetap mengepul dan roda ekonomi tetap berputar berkat bantuan karyawannya.

​Kisah Bripda Abdul Rapi menjadi potret bahwa dedikasi kepada negara dan semangat wirausaha dapat berjalan selaras, asalkan ada kemauan untuk menanggalkan gengsi.