
MerahPutih.com – Pemerintah memiliki target untuk mencapai kemiskinan ekstrim sebesar 0% pada tahun 2024. Namun, hal ini tampaknya menjadi pekerjaan rumah yang sulit.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengungkapkan bahwa ada tiga cara untuk mengentaskan kemiskinan ekstrim hingga nol persen pada tahun 2024, yaitu dengan meningkatkan daya beli, memungkinkan pendapatan yang berkelanjutan dan juga akses terhadap layanan dasar.
Baca juga
Cak Imin mendesak pemerintah untuk fokus mengentaskan kemiskinan di 16 provinsi
“Kita dipuji Bank Dunia karena mengurangi kemiskinan, tidak sembarangan. Kita punya tiga instrumen, bagaimana kita bisa membantu masyarakat miskin dengan daya belinya dalam bansos dan banyak program yang terkait dengannya,” ujar Monoarfa di Jakarta , Selasa (6/6).
Suharso mengatakan, pada tahap awal, pemerintah berupaya meningkatkan daya beli masyarakat sangat miskin dengan memberikan bansos dan rangkaian program sosial melekat lainnya.
Kemudian, setelah menyalurkan bansos, pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas masyarakat sangat miskin dengan program pemberdayaan. Hal ini agar masyarakat sasaran memiliki produktivitas dan sumber pendapatan yang berkelanjutan.
“Saat mereka naik kelas, yaitu, mereka mendapat ruang dari cara mereka menerima pengait sehingga mereka bisa berproduksi. Kemudian pemberdayaan, kemudian setelah membantunya, setelah lepas dari tahap pertama dia masuk ke pemberdayaan”, ujarnya.
Baca juga
Menko PMK: Kemiskinan Ekstrem Lebih Tinggi di Pulau Jawa
Pada saat yang sama, kata Suharso, pemerintah melakukan intervensi di daerah-daerah yang sangat miskin, membangun infrastruktur untuk mengakses layanan dasar seperti fasilitas air bersih atau akses jalan.
Menurut Suharso, pemerintah telah memetakan setiap kabupaten/kota yang penduduknya sangat miskin. Dia berharap pemerintah daerah juga membantu intervensi pemerintah pusat untuk memberantas kemiskinan ekstrem.
“Daerah juga melakukan ini agar sumber daya yang ada, sumber pendanaan yang terbatas, dapat digunakan secara efektif dan efisien,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia menargetkan tingkat kemiskinan ekstrim mendekati nol persen pada tahun 2024.
Menurut Suharso, Indonesia masih menggunakan standar paritas daya beli (PPP) garis kemiskinan ekstrim sebesar US$1,9 per kapita per hari. Dengan standar tersebut, jumlah penduduk sangat miskin yang harus dilayani adalah 5,8 juta orang.
Namun, menggunakan standar garis kemiskinan yang digunakan oleh program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) global, standar PPP yang digunakan adalah $2,15 per hari. Dengan standar PPP, jumlah penduduk miskin yang perlu dilayani pemerintah meningkat menjadi 6,7 juta orang.
Baca juga
PDIP menargetkan kemiskinan ekstrem di Indonesia





